Tampilkan postingan dengan label E-book : Kebohongan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-book : Kebohongan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Desember 2008

E-book : Tentang Kebohongan

Apa yang bisa Anda dapatkan dari membaca buku ini?

Bohong adalah fakta sosial dalam kehidupan manusia. Tidak ada masyarakat tanpa kebohongan. Meskipun demikian, apa dan bagaimana bohong tidak mendapatkan perhatian memadai. Sangat jarang perhatian diberikan pada fenomena satu ini. Nah, buku ini mengetengahkan apa dan bagaimana bohong itu sesungguhnya. Anda akan mendapatkan pengetahuan tentang arti bohong, apa yang dibohongkan orang, siapakah yang berbohong, apa alasan orang-orang berbohong, apa-apa saja kebohongan yang ada di sekitar kita, dan bagaimana mendeteksi kebohongan. Pendek kata, segala sesuatu tentang bohong akan Anda temukan dalam buku ini.

Daftar Isi

Bab 1. Mengartikan Pembohong

Bab 2. Taksonomi bohong
Bab 3. Mengapa Berbohong
Bab 4. Siapa Yang Berbohong
Bab 5. Mendeteksi Kebohongan
Bab 6. Bohong dan Kehidupan Sosial

Apakah bohong bisa dibenarkan secara moral?

Nyaris semua panduan moral, baik yang berasal dari ajaran agama, adat maupun konvensi bersama, menyebutkan bahwa kebohongan sebagai perilaku tidak bermoral. Tidak ada yang menganjurkan kebohongan. Bentuk masyarakat yang dicita-citakan setiap agama adalah bentuk masyarakat yang dipenuhi kejujuran. Akan tetapi jika kebohongan memang tidak bermoral, mengapa kebohongan sedemikian luas dilakukan? Jawaban yang bisa diberikan barangkali karena berbohong memang memberikan banyak manfaat kepada pelakunya.

Panduan agama, dalam hal ini saya mengambil contoh Islam, tidak secara tegas melarang semua bentuk kebohongan. Ada kebohongan yang sama sekali dilarang, namun ada juga kebohongan yang diperbolehkan. Ini berarti meskipun kebohongan dinilai tidak memenuhi nilai moral, tapi ia sudah merupakan fakta sosial sehari-hari, yang oleh karenanya tidak mutlak dilarang. Islam bahkan memberikan panduan mengenai bohong-bohong apa saja yang diperbolehkan. Artinya pula, seseorang dianggap berbohong akan sangat tergantung situasi etiknya.

Hanya ada dua kategori kebohongan yang tidak ditoleransi dalam Islam, yakni berbohong mengingkari Allah SWT dan berbohong mengingkari Nabi Muhammad SAW. Selebihnya bisa ditoleransi tergantung konteksnya. Beberapa jenis kebohongan yang diijinkan dalam Islam adalah :

Menyelamatkan seseorang
Memberi efek terhadap perdamaian atau rekonsiliasi konflik
Dalam situasi melakukan perjalanan dimana jika jujur akan membahayakan perjalanan.

Permakluman yang diberikan kepada perilaku bohong sangat beragam tergantung konteksnya. Membohongi seribu rupiah pada orang kaya akan lebih dimaklumi ketimbang membohongi 1000 rupiah pada anak yatim. Masyarakat akan sangat mengecam mereka yang membohongi anak yatim, tapi justru bisa jadi malah memuji mereka yang berhasil membohongi orang kaya. Bohongnya anak-anak biasanya juga jauh lebih dimaklumi daripada bohongnya orang dewasa. Jadi, kebohongan sebetulnya sesuatu yang sangat liat. Kadang dimaklumi, kadang dikecam tergantung konteksnya.

Apakah ada hubungan kebohongan dengan bentuk masyarakat tertentu?

Tidak ada masyarakat yang pernah diketahui, yang sama sekali terbebas dari bohong. Penelitian menunjukkan bahwa hampir semua bentuk masyarakat yang ada di dunia ini, terdapat perilaku bohong diantara anggota-anggotanya. Mengapa demikian?

Pertama, bohong tumbuh pada masyarakat yang memiliki perbedaan kelas-kelas sosial. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang menjadi atasan, ada yang menjadi bawahan. Ada yang berkuasa ada yang tidak, dan seterusnya. Selama ada kelas-kelas sosial tersebut, adalah muskil untuk meniadakan kebohongan. Kelas sosial berimplikasi pada munculnya beragam tata krama untuk menyesuaikan perilaku dengan kelas-kelas sosial yang ada. Seseorang dari kelas sosial rendah diharapkan berbeda dalam bersikap dan berperilaku menghadapi kelas sosial yang setara maupun yang lebih tinggi. Seorang bawahan diharapkan akan berbeda cara dalam menghadapi sesama bawahan dengan menghadapi atasan. Persetujuan lebih sering diberikan kepada atasan.

Perbedaan kelas sosial menunjukkan adanya hirarki. Seseorang yang lebih baik dari segi apapun, baik itu harta, pengetahuan, penampilan atau lainnya, tentu akan menempati hirarki lebih tinggi dibandingkan yang lain. Nah, agar seseorang menempati posisi lebih tinggi dalam hirarki maka orang-orang berupaya melakukan manajemen kesan supaya terlihat lebih baik.

Kedua, bohong tumbuh pada masyarakat yang relasi sosialnya terdapat dominasi. Seseorang tentu akan menghadapi yang lebih berkuasa dengan cara berbeda dengan ketika menghadapi yang kurang berkuasa. Jika Anda selalu membangkang yang berkuasa, bukankah Anda akan mendapat kesulitan? Pada saat seorang anak berbohong pada orangtuanya, tidak lain karena orangtua mempunyai dominasi kekuasaan. Sang anak khawatir akan mendapatkan hukuman dari orangtua jika mengatakan kebenaran, dan oleh karena itu diungkapkanlah kebohongan. Pada saat Anda berbohong pada penagih hutang, bukankah karena dalam hubungan itu, si penagih hutang adalah pihak yang dominan?

Ketiga, bohong tumbuh pada masyarakat yang mengajarkan kepatuhan. Setiap kepatuhan diharapkan maka juga melahirkan kebohongan. Pada masyarakat dimana tata aturan norma sangat berat dan dimana pelanggaran dijatuhi hukuman berat, bukankah menjadi wajar jika melakukan kebohongan untuk menghindari kesulitan?

Adakah bentuk masyarakat tanpa kebohongan? Pertanyaannya justru adakah masyarakat yang benar-benar setara, dimana tidak ada kelas sosial, tidak ada relasi yang mendominasi, tidak ada tata aturan norma yang mengikat kepatuhan? Sebab hanya masyarakat yang setara yang bisa menghindarkan terjadinya kebohongan.

Terdapat satu lagi bentuk masyarakat yang memungkinkan memunculkan perilaku bohong lebih sering, yakni masyarakat yang mengharapkan anggota-anggotanya menunjukkan perhatian lebih besar dalam bentuk dukungan sosial, dukungan emosional atau kepedulian. Pada bentuk masyarakat yang mengajarkan moral demikian itu, maka anggota-anggotanya akan berusaha sedapat mungkin mewujudkannya meskipun dalam bentuk kebohongan. Bukankah Anda akan disebut kurang ajar jika pada saat ada kematian tetangga, Anda menyetel musik keras-keras?! Bahkan meskipun Anda tidak turut berduka, Anda toh tetap harus menunjukkan perilaku berduka.

Budaya masyarakat Indonesia yang banyak menempatkan sopan santun dan unggah-ungguh atau tata krama dalam pergaulan memberikan pengaruh terhadap perilaku bohong. Misalnya budaya jawa yang melarang anak mengatakan tidak pada orangtuanya meskipun tidak menjalankan apa yang diperintahkan, jelas mendorong terjadinya perilaku bohong. Pada saat atasan Anda meminta Anda mencoba masakan buatannya, apakah Anda akan mengatakan tidak enak, meskipun Anda merasakannya tidak enak? Anda hanya diharuskan untuk mengatakan enak, meski toh sang atasan cukup menyadari bahwa masakannya memang tidak enak. Jadi, sebenarnya tidak ada ruginya mengatakan apa adanya. Tapi ya itu, demi tata krama, maka bohong mengatakan enak adalah yang paling lazim dilakukan.

Apakah kebohongan merupakan fakta sosial dalam hidup sehari-hari?

Maaf kepada Anda yang moralis dan percaya bahwa kebohongan adalah penyimpangan berat dalam hidup manusia, karena ternyata kebohongan adalah bagian dari hidup manusia sehari-hari. Bohong sama sekali bukan peristiwa yang luar biasa atau langka. Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwasanya dalam seminggu seseorang melakukan kebohongan antara 0 atau tidak sama sekali, sampai 46 kali kebohongan. Artinya ada orang yang melakukan kebohongan rata-rata sampai 6 kali dalam sehari.

Penelitian itu juga menemukan bahwa masyarakat umumnya melakukan kebohongan minimal 1 kali dalam satu hari interaksi dengan orang lain. Mahasiswa melakukan rata-rata 2 kebohongan setiap hari. Mereka berbohong 1 kali dalam setiap 3 kali interaksi. Artinya sepertiga interaksi yang dilakukan mengandung kebohongan. Luar biasa bukan?!

Tentunya ada alasan mengapa bohong secara masif dilakukan, bahkan oleh semua kelompok umur. Satu yang pasti adalah karena bohong menguntungkan, baik bagi pelakunya maupun bagi kehidupan sosial. Keuntungan bagi pelaku kebohongan sangat jelas, entah itu untuk keuntungan psikis maupun keuntungan material. Dalam interaksi sosial, bohong menjadi sarana bagi seseorang untuk melakukan manajemen kesan, mengatur emosi, dan memberikan dukungan sosial. Lalu apa keuntungan bagi kehidupan sosial?

Kebohongan dalam masyarakat rupa-rupanya menjaga terciptanya lingkungan sosial yang erat. Bohong merupakan perantara bagi banyak orang untuk menunjukkan dukungan sosial kepada yang lainnya. Pada saat kesusahan, berbagai basa basi menunjukkan perhatian dan keprihatinan, yang tentunya banyak mengandung kebohongan, diucapkan. Tidak lain untuk menunjukkan adanya saling dukung dalam masyarakat. Dan semua orang mahfum belaka adanya kebohongan itu.

Bohong juga dilakukan untuk menciptakan keteraturan dan menjamin bahwa tata krama dalam masyarakat diterapkan. Bayangkan, jika seseorang selalu mengatakan apa adanya pendapat pribadinya pada orang lain, maka yang ada hanyalah geger sosial. Apa mungkin Anda mengatakan jelek anak tetangga Anda yang memang jelek, di depan orangtuanya? Lha, kalau mengatakan begitu Anda bakal tidak punya teman. Semua tetangga bakal menghindari Anda.

Keramahtamahan jangan-jangan juga sering dihiasi ketidakjujuran. Mempersilakan mampir seseorang, padahal hati tidak ingin orang itu mampir, hal biasa bukan? Tapi toh setiap orang telah mahfum, bahwa ramah-tamah semacam itu, tidaklah bermaksud sungguhan, sehingga ya menolak. Jikalau menerima tawaran untuk mampir, malah mungkin dianggap kurang ajar.

Apa saja situasi yang menimbulkan kebohongan?

Salah satu cara mendeteksi kebohongan adalah dengan mengetahui situasi-situasi apa saja yang paling sering menimbulkan kebohongan. Dengan mengetahui situasi-situasi itu, maka kita bisa lebih kritis terhadap informasi yang datangnya dari situasi tersebut. Berikut beberapa situasi interaksi yang memungkinkan munculnya kebohongan,

* Situasi dimana hubungan yang terjalin kurang hangat dan akrab
* Situasi dimana hubungan antara pelaku interaksi tidak setara, misalnya atasan-bawahan
* Situasi dimana dukungan sosial sangat diharapkan (pada saat ada yang terkena musibah
* Situasi dimana interaksi sosial yang terjalin menunjukkan ada pihak yang mendominasi
* Situasi interaksi dimana salah satu pihak berpotensi mendapatkan tekanan dari pihak lain

Apakah detektor kebohongan itu?

Anda tentu sering mendengar mengenai detektor kebohongan atau lie detector. Diyakini bahwa jika seseorang diuji menggunakan alat itu maka akan diketahui seseorang itu berbohong atau tidak. Tetapi apakah benar seperti itu? Jika benar, seperti apa cara kerjanya?

Detektor kebohongan adalah sebuah poligraph yang mengukur perubahan fisiologis tubuh pada saat menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ atas beberapa pertanyaan yang diajukan. Alat tersebut mengukur pola pernafasan, tekanan darah, denyut nadi, perubahan elektrolit pada kulit yang menunjukkan adanya keringat atau tidak, dan perubahan nada suara. Asumsinya, jika seseorang berbohong maka ia akan mengalami beberapa perubahan fisiologis. Jika tidak berbohong maka juga tidak terjadi perubahan fisiologis.

Pemakaian detektor pernah digunakan secara masif pada tahun 80-an sampai 90-an tapi kini penggunaannya sangat dibatasi. Mengapa? Karena detektor kebohongan ternyata menimbulkan masalah. Mereka yang gugup pada saat menghadapi detektor kebohongan, meskipun berkata jujur, akan tetap dikatakan sebagai pembohong oleh mesin tersebut, sebab tekanan denyut jantung, nada suara, serta tekanan darahnya meningkat akibat kegugupan. Sebaliknya mereka yang terlatih berbohong atau aktor-aktor yang handal akan selalu lolos dikatakan sebagai orang jujur karena piawai dalam mengatur perubahan fisiologis yang terjadi, bahkan meskipun menceritakan kebohongan yang sangat besar.

Apakah bisa mendeteksi kebohongan?

Ada sebuah hasil penelitian yang sangat menarik, yakni bahwa mereka yang melakukan kebohongan percaya bahwa dari empat kebohongan yang dilakukannya, sekurang-kurangnya ada satu yang bisa dideteksi orang lain. Itu artinya meskipun mereka merasa cukup sukses dalam berbohong, mereka juga mengakui bahwa orang lain cukup mampu mendeteksi kebohongan yang dilakukan. Tapi meskipun diakui demikian oleh si pembohong, kenyataannya tingkat keberhasilan orang untuk mendeteksi kebohongan orang lain sangat rendah. Sangat sedikit orang yang mampu melakukannya dengan baik.

Menurut banyak ahli mendeteksi kebohongan orang lain sangat mungkin dilakukan. Anda sendiri tentu bisa mendeteksi kebohongan yang telah Anda buat. Meskipun demikian kemampuan mendeteksi kebohongan diri sendiri sama sekali tidak ada kaitannya dengan kemampuan mendeteksi kebohongan orang lain. Keduanya sama sekali berbeda. Secara empiris kita mungkin pernah beberapa kali berhasil mendeteksi kebohongan orang lain. Misalnya kita tahu pada saat seorang anak berbohong atau saat penjual berbohong.

Sampai sejauh ini tidak terbukti terdapat perbedaan siginifikan antara mereka yang kerjanya mendeteksi kebohongan, misalnya polisi, interviewer, hakim, atau pengacara dibandingkan dengan orang biasa-biasa saja. Semuanya seperti memiliki kemampuan relatif sama. Tidak ada bedanya antara kemampuan seorang polisi dengan dokter gigi. Namun demikian ada orang-orang tertentu yang mampu mendeteksi kebohongan lebih baik dibandingkan yang lain. Tampaknya keterampilan mendeteksi kebohongan memang sebuah keterampilan khusus yang hanya dimiliki orang-orang tertentu. Sepertinya mereka diberkahi bakat untuk itu. Tapi memang mungkin untuk memperbesar kemungkinan mendeteksi kebohongan melalui belajar secara terus menerus.

Kita tahu bahwa kebohongan adalah tindakan verbal karena mengucapkan kata-kata. Namun demikian kebohongan juga memiliki aspek nonverbal. Biasanya aspek nonverbal inilah yang paling membantu dalam mendeteksi kebohongan. Mengapa? Karena aspek verbal, dalam hal ini kata-kata, sangat mudah dimanipulasi. Sedangkan aspek nonverbal jauh lebih sulit dimanipulasi. Mereka yang bisa menyampaikan cerita kebohongan dengan runtut, logis dan tenang sangat sulit ditebak berbohong hanya dari kata-kata yang diucapkan. Namun mereka biasanya tidak mampu memanipulasi perubahan spontan pada ekspresi wajah dan tekanan suara.

Ada beberapa pedoman yang bisa digunakan mendeteksi kebohongan. Semuanya mendasarkan pada apa yang terjadi saat seseorang berbohong. Pedoman bisa memperbesar peluang benar dalam deteksi kebohongan. Namun bukan berarti bahwa mereka yang memenuhi ciri-ciri seperti dalam pedoman pasti melakukan kebohongan. Kita harus tetap sangat berhati-hati dalam menyimpulkan seseorang berbohong atau tidak.

Berikut beberapa pedoman yang mungkin berguna dalam mendeteksi kebohongan secara lebih akurat.

*
Biasanya pembohong menjadi lebih tertarik dan lebih memperhatikan cerita yang dibohongkan. Mereka tiba-tiba lebih ingin orang memperhatikan cerita itu. Jika biasanya bercerita datar-datar saja maka tiba-tiba bisa bersemangat dan menggunakan kata penegas, seperti “ini benar!”, “aku yakin!”, “tidak salah lagi!”, dan semacamnya.
*
Biasanya pembohong enggan mendekat secara fisik kepada yang dibohongi, mereka cenderung menjaga kontak fisik agar tidak terlalu dekat.
*
Biasanya ada ketidaksesuaian antara cerita yang disampaikan dengan emosi yang muncul. Misalnya menyampaikan ibunya meninggal tapi dengan tertawa.
*
Menunda jawaban sedikit lebih lama pada saat ditanya
*
Kadang terjadi kekeliruan ucapan dalam bercerita
*
Pada saat ditanya, jawaban yang diberikan sangat singkat.
*
Pada saat menjawab kurang menunjukkan keseriusan.
*
Biasanya pada saat berbohong dan sesudahnya, sekitar kira-kira 10 detik, terjadi perubahan ekspresi wajah secara spontan.
*
Tekanan suaranya berubah menjadi lebih berat atau tinggi.
*
Menghindari terjadinya kontak mata
*
Melakukan gerakan-gerakan tidak biasa saat berbohong, seperti memilin-milin rambut, meremas-remas baju, dan lainnya.

Apa yang terjadi ketika berbohong?

Apa yang Anda rasakan saat Anda berbohong? Apakah Anda merasakan munculnya perasaan bersalah? Atau munculnya rasa was-was? Degup jantung lebih kencang sehingga dada berdebar-debar? Bulu kuduk merinding? Atau Anda tidak merasakan apa-apa?

Sebagian orang melaporkan munculnya perasaan bersalah setelah berbohong. Sebuah penelitian juga menemukan bahwa tekanan yang dialami seseorang ketika berbohong akan terus meningkat dari sebelum berbohong, saat berbohong, dan yang tertinggi pada beberapa saat sesudah berbohong. Namun demikian, kebanyakan yang berbohong menyatakan bahwa kebohongan yang dilakukannya bukan sesuatu yang serius. Bahkan 70% orang yang berbohong mengatakan akan berbohong lagi jika menemui situasi yang sama.

Pada umumnya orang merasa bahwa kebohongan yang dilakukannya bertujuan melindungi yang dibohongi ataupun melindungi diri sendiri. Sangat jarang orang mengaku berbohong untuk mendapatkan keuntungan personal, seperti misalnya mendapatkan harta benda. Mereka beralasan bahwa akan tidak nyaman bagi pembohong maupun yang dibohongi jika harus mengatakan yang sebenarnya. Oleh karena itu berbohong digunakan sebagai cara agar semuanya merasa nyaman. Begitu pengakuan dari yang melakukan kebohongan. Pada umumnya pembohong juga mengaku melakukan kebohongan yang lebih sedikit daripada orang lain. Mereka biasanya juga mengaku cukup sukses dalam berbohong.

Interaksi sosial yang terdapat kebohongan biasanya berjalan menjadi kurang nyaman dan kurang intim. Pastinya tidak akan senyaman jika interaksi yang dilakukan penuh kejujuran. Mungkin orang yang berbohong akan merasa risih atau malu untuk berada lebih dekat dengan orang lain setelah menyampaikan kebohongan. Boleh jadi, setelah berbohong, seseorang akan berupaya menjauh dari pihak yang dibohongi, atau sekurangnya menjaga jarak. Jadi, kalau setelah bercerita pada Anda seseorang tidak berusaha lebih dekat, maka mungkin dia menceritakan cerita bohong.

Mereka yang berbohong biasanya kemudian cenderung memberikan tekanan berlebih pada apa yang dibohongkan. Cenderung lebih emosional, lebih dalam tekanan suaranya dalam menyampaikan, dan lebih memperhatikan. Kadang tidak terdapat kesesuaian antara kondisi yang diceritakan dengan apa yang ditampilkan. Misalkan menceritakan tentang musibah yang menimpa teman, tapi si dia menceritakan dengan nada datar-datar saja. Seorang pembohong terkadang merasakan cemas, tegang dan gugup. Kadang nada suaranya lebih tinggi pada orang yang sedang berbohong. Pada saat ditanya, pembohong biasanya memberikan jawaban yang lebih singkat. Mereka juga menunda jawaban lebih lama, sering mengalami kekeliruan ucapan, jawaban yang diberikan kurang serius atau terkesan main-main. Terkadang dalam jawaban itu juga mengandung kegugupan.

Pada umumnya orang berusaha melihat seseorang berbohong atau tidak berdasarkan ekspresi wajah. Jika Anda merasa ada yang kurang beres dengan apa yang diucapkan oleh lawan bicara, maka Anda akan cenderung melihat ke wajahnya untuk memastikan apakah lawan bicara Anda itu serius atau tidak. Jika dinilai serius maka dianggap tidak berbohong. Sebaliknya jika dianggap kurang serius maka akan dinilai berbohong. Hal itu ada benarnya karena pada saat berbohong biasanya secara spontan terjadi perubahan ekspresi wajah. Nah, para pembohong biasanya berupaya menutupi satu ekspresi wajah dengan perilaku atau ekspresi lainnya yang tidak asli. Hal itu dilakukan untuk menimbulkan ekspresi yang mendukung cerita bohong.

Apakah ada membohongi diri sendiri?

“Jangan membohongi diri sendiri!” Begitu biasanya peringatan yang diberikan kepada seseorang untuk jujur pada dirinya sendiri. Tapi apa sebenarnya bohong terhadap diri sendiri itu? Bohong kepada diri sendiri sebenarnya konsep yang masih kabur. Menurut sebagian pihak, artinya mengingkari apa yang menjadi kehendak hatinya yang paling dalam. Tapi kehendak hati yang paling dalam itu apa maksudnya? Sekali lagi, ini adalah konsep yang kabur.

Biasanya seseorang dikatakan berbohong pada diri sendiri jika menyatakan kepada diri sendiri berbeda dari yang dirasakan sendiri. Misalnya Anda merasa bahwa Anda masih mencintai seseorang bernama Rika, namun Anda mengatakan kepada diri Anda sendiri, bahwa Anda sudah tidak mencintainya lagi. “Aku sudah tidak mencintai Rika lagi, sudah tidak lagi!”

Pada saat Anda mengatakan pada orang lain bahwa Anda sudah tidak mencintai Rika, maka pada saat itu sudah berubah menjadi bohong kepada orang lain. Nah, jadi bedanya hanya soal siapa yang menjadi korban kebohongan. Pertanyaannya, apa mungkin membohongi diri sendiri karena diri sendiri tentunya cukup sadar dengan apa yang dirasakan. Artinya tahu fakta apa adanya. Anda tahu fakta bahwa Anda masih mencintai Rika, tapi Anda berusaha menyingkirkan pikiran itu dari diri Anda sehingga Anda mengingkarinya. Jika semacam itu dianggap bohong terhadap diri sendiri, lalu apa bedanya dengan lamunan atau khayalan? Misalnya pada saat berkhayal, Anda membayangkan menjadi pemain sepakbola hebat yang bermain di klub terkenal di dunia. Di sisi lain Anda hanyalah penggemar sepakbola yang skill bermain Anda hanya cukup untuk tim RT. Anda tahu faktanya, dan Anda mengingkarinya. Apakah itu yang dimaksud kebohongan terhadap diri sendiri?

Kebohongan bisa membentuk lingkaran setan dan terus bertumpuk. Sekali kebohongan dilakukan, biasanya kebohongan akan abadi karena harus terus melakukan kebohongan agar tidak dianggap berbohong. Misalnya Anda berbohong pernah ke kota Milan, bukankah Anda akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan itu? Pada saat ada yang bertanya tentang kota Milan, bukankah Anda akan dijadikan rujukan? Maka Anda harus berbohong tentang Milan. Ini artinya, hanya orang-orang cerdas yang mampu berbohong dengan sempurna, sebab selalu tahu celah untuk menghindari terbongkarnya kebohongan.

Kepribadian seperti apa yang cenderung menjadi pembohong?

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa dalam seminggu orang-orang melakukan kebohongan dari 0 kali sampai 46 kali. Artinya ada yang rata-rata melakukannya lebih dari 6 kebohongan setiap hari. Siapakah mereka itu? Seperti telah dibahas secara singkat dalam bab1, terdapat kecenderungan pemilik kepribadian tertentu untuk lebih banyak melakukan kebohongan dibandingkan yang lain. Apa-apa saja tipe kepribadian itu? Berikut beberapa tipe kepribadian itu dan keterangannya.

Pribadi manipulatif

Bohong dapat digunakan sebagai sarana dalam mencapai tujuan interaksi sosial. Misalnya untuk mendapatkan teman atau mempengaruhi orang lain. Ini artinya bohong memang bisa dimanipulasi sesuai kehendak untuk menggapai tujuan tertentu. Orang-orang yang manipulatif adalah mereka yang bisa memanfaatkan bohong secara maksimal.

Ada tipe kepribadian yang orangnya sangat manipulatif, yakni tipe kepribadian machiavellianisme. Mereka biasanya sinis terhadap orang lain, menunjukkan sedikit hormat pada moralitas konvensional, dan secara terbuka mengakui bahwa mereka akan berbohong, menipu dan memanipulasi orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka ini orang yang menghalalkan segala cara dalam kehidupan. Meski begitu, mereka tidak mengeksploitasi orang yang mungkin bisa membalas dendam. Jadi mereka hanya mengeksploitasi orang yang tidak memiliki potensi membalas dendam. Pemilik kepribadian machiavellianisme mudah dikenali. Mereka biasanya ambisius dan mendominasi tetapi mereka juga terlihat santai, penuh talenta dan percaya diri.

Orang yang manipulatif lainnya adalah yang memiliki tipe kepribadian social androitness, yakni tipe pribadi yang cenderung memanipulasi hubungan dengan orang lain, tapi dalam konotasi yang tidak negatif.

Mereka yang manipulatif, biasanya menyadari manipulasi atau kebohongan yang dilakukan. Ketimbang orang lain, mereka lebih tahu kalau dirinya berbohong. Selain itu mereka juga lebih percaya diri akan keterampilan berbohong yang dimiliki. Mereka lebih yakin kalau orang lain berhasil dibohongi. Apa yang menarik dari pribadi manipulatif adalah disaat bersamaan dengan kebohongan yang dibuat dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka tetap mengontrol diri agar dikagumi dan disukai.

Pribadi yang sangat memperhatikan kesan di mata orang lain

Kita tahu bahwa bohong biasa digunakan dalam manajemen kesan. Misalnya agar seorang gadis terkesan pada Anda, maka Anda berbohong telah melakukan banyak hal hebat dalam hidup Anda. Nah, mereka yang sangat memperhatikan kesan mereka di mata orang lain adalah mereka yang cenderung untuk berbohong. Tidak lain ya untuk memanajemen kesan itu. Biasanya kebohongan yang dilakukan adalah yang berorientasi diri sendiri.

Sekurangnya ada dua tipe kepribadian yang sangat memperhatikan kesan di mata orang lain, yaitu tipe kepribadian kesadaran diri publik (public self-consciousness) dan tipe kepribadian mengarah ke orang lain (other directedness). Tipe kesadaran diri publik maupun tipe kepribadian mengarah pada orang lain sangat memperhatikan perhatian yang diberikan orang dan apa yang mereka pikirkan. Misalnya Anda ribut takut pendapat orang mengenai pakaian yang Anda kenakan akan negatif, sehingga berjam-jam mematut diri untuk memastikan orang akan menganggap Anda sempurna.

Mereka yang memiliki tipe kepribadian itu biasanya juga sangat memperhatikan orang lain, namun bukan karena sungguh-sungguh memperhatikan. Mereka melakukannya untuk meningkatkan kesan baik pada dirinya. Menolong bukan karena kasihan, tapi agar dinilai orang baik hati. Orang-orang yang suka pamer tergolong dalam tipe kepribadian ini. Di mana-mana mereka menyombongkan apa yang dimilikinya, tujuannya ya agar orang terkesan. Nah, mereka yang seperti ini memiliki kemungkinan lebih besar untuk berbohong.

Pribadi yang memiliki percaya diri rendah

Mereka yang memiliki kepercayaan diri rendah biasanya tidak cukup percaya diri untuk berbeda dari yang lain. Mereka tidak berani tampil beda. Nah, mereka yang rendah percaya dirinya juga tidak cukup berani untuk menampilkan diri seperti aslinya. Misalnya mereka ingin tampak lebih baik, lebih bijak, lebih bermoral, lebih bertalenta dan lainnya. Itu berarti melakukan kebohongan. Biasanya, orang dengan rasa percaya diri rendah selalu melakukan apa yang orang lain inginkan meskipun dirinya sendiri tidak setuju. Misalnya Ana tidak setuju untuk pergi ke pantai, tapi karena tidak percaya diri maka ia bilang setuju ketika ditanya pendapatnya.

Mereka yang memiliki kecemasan sosial yang tinggi juga mengalami hal demikian. Oleh karena cemas tidak diterima secara sosial maka melakukan banyak persetujuan dengan lingkungan sosial meskipun dirinya sendiri tidak menyepakatinya. Akibatnya banyak kebohongan dibuat.

Pribadi yang mudah bersosialisasi
Pribadi ekstrovert atau mereka yang mudah menjalin interaksi dengan orang lain disinyalir mudah berbohong. Hal ini bukan sekedar karena mereka memiliki interaksi sosial lebih banyak sehingga memiliki kesempatan melakukan kebohongan yang lebih besar. Selain itu adalah karena mereka terbiasa terlibat dalam cerita-cerita bohong, maka mereka pun lebih terbiasa untuk melakukan kebohongan. Karena terbiasa maka mereka lebih mudah dan lebih sukses dalam berbohong. Jadi, mereka yang kerap berkumpul dengan teman-temannya untuk begadang, arisan atau jalan-jalan dimungkinkan lebih banyak melakukan kebohongan. Setidaknya mereka akan lebih lihai dalam melakukannya ketimbang mereka yang hanya diam di rumah.

Benarkah anak-anak mahluk paling jujur di dunia?

Dengarlah perkataan anak-anak, merekalah satu-satunya yang dapat dipercaya karena hanya mereka yang pasti menyampaikan kebenaran. Tidak ada kebohongan pada diri anak-anak. Semua yang dikatakannya jujur semata. Benarkah?

Pada saat masih sangat muda, sekitar umur 3 tahunan, seorang anak berbohong karena tidak bisa membedakan mana yang fantasi dan mana yang berupa kebenaran. Pada umur itu, anak-anak juga biasa melupakan apa yang telah dilakukan. Sekitar umur 5 atau 6 tahunan, anak-anak mulai bisa membedakan mana yang merupakan fantasi dan mana yang kenyataan sesungguhnya. Pada umur ini, anak mulai belajar apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui orangtuanya. Selain itu seorang anak juga mulai membangun rasa bersalah jika melakukan tindakan yang tidak semestinya. Pada saat inilah dimungkinkan bohong dilakukan seorang anak untuk menghindari ketidaksetujuan orangtua atau hukuman. Misalnya karena orangtuanya selalu memarahi bila merusak sesuatu, maka ketika memecahkan gelas sang anak berbohong. Jika mengakui memecahkan gelas, sang anak khawatir bakal mendapatkan kesulitan. Umur 5-6 tahunan juga merupakan umur dimana seorang anak ingin mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Oleh karena itu salah satu strategi untuk menarik perhatian adalah dengan berbohong.

Sekitar umur 7-8 tahunan, kebanyakan anak telah belajar membedakan yang kenyataan dan yang berupa fantasi. Umumnya alasan berbohong pada umur ini adalah untuk menghindari hukuman jika berkata jujur atau untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Pada umur ini, seorang anak juga mulai belajar tentang kesopanan. Mereka mulai bisa berpura-pura menyukai sesuatu yang tidak disukainya. Misalnya ada tetangga memberikan kue, maka akan dibilang sangat enak meskipun tidak menyukai kue itu. Salah satu yang paling menarik mengenai bohong anak-anak pada usia ini adalah bohong menangis untuk membantu temannya yang diganggu teman yang lain. Tangisan membuat kejadian itu diperhatikan orang. Ini artinya bohong digunakan untuk membantu.

Pada saat beranjak remaja, kebohongan biasanya dilakukan untuk melindungi privasi, membangun independensi, dan menghindari kebingungan. Selain itu bisa jadi bohong dilakukan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan jika mengatakan kebenaran. Misalnya meminta uang untuk membeli mainan tidak akan diberi, tapi meminta uang untuk membeli buku akan diberi. Oleh sebab itu mereka meminta uang pada orangtua untuk membeli mainan meski sebenarnya untuk membeli buku.

Berbohong pada anak-anak sebenarnya bukan sesuatu yang sangat serius kecuali jika menjadi kebiasaan atau kompulsif (berulang terus menerus). Namun jika dibiarkan maka anak akan kesulitan ketika bergaul dengan teman-temannya di sekolah ataupun di lingkungan permainan, yang selanjutnya akan menimbulkan masalah lebih parah pada saat tumbuh dewasa. Oleh karena itu sejak dini orangtua harus memberikan pelajaran kejujuran pada anak.

Memberikan hukuman atas kebohongan yang dilakukan anak cenderung malah merugikan karena sang anak berbohong untuk menghindari hukuman. Sehingga malah mungkin meningkatkan kebohongan yang dilakukan pada masa mendatang ketimbang menurunkannya, karena anak belajar bahwa akan dihukum bila ketahuan tapi tidak akan dihukum bila tidak ketahuan. Akibatnya anak akan lebih berusaha agar tidak ketahuan berbohong. Lebih baik membicarakan dari hati ke hati apa akibat-akibat apabila tidak jujur. Diharapkan itu akan menekan ketidakjujuran anak.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua untuk melatih kejujuran anak :

*
Selalu menerangkan dan meminta maaf jika tidak menepati janji
*
Jika kedapatan berbohong di muka anak, akuilah, dan jelaskan alasannya
*
Jangan mengatakan kebohongan untuk mendapatkan persetujuan anak
*
Jangan memberikan terlalu banyak aturan pada anak
*
Jangan terlalu sering memberikan hukuman pada anak
*
Jangan langsung marah jika anak melakukan kebohongan, tanyakan dulu mengapa

Apakah wanita lebih banyak berbohong daripada pria?

Pada umumnya orang mengira kalau wanita lebih banyak melakukan kebohongan daripada laki-laki. Sering dikatakan kalau ibu-ibu jauh lebih banyak berbohong ketimbang bapak-bapak. Di mana-mana pada saat bertemu teman, dalam forum arisan, kondangan, atau apapun, wanita selalu menebar kebohongan. Begitu mitos yang beredar. Banyak orang mengakuinya. Jadi, anggapan bahwa ciri laki-laki adalah pembohong sebenarnya tidak sejalan dengan dugaan bahwa wanita lebih banyak melakukan kebohongan. Tapi benarkah kalau wanita lebih banyak berbohong?

Tingkat keseringan berbohong harus diukur tidak hanya dari jumlah kebohongan yang dilakukan, tapi juga dari jumlah interaksi yang memungkinkan terjadi kebohongan. Beberapa penelitian membuktikan bahwa dari sisi jumlah, wanita memang lebih banyak melakukan kebohongan daripada pria. Namun harus dicatat bahwasanya wanita juga melakukan interaksi yang memungkinkan kebohongan lebih banyak. Gampangnya, jika pria berbohong 5 kali sebulan dan wanita 10 kali sebulan, tidak bisa serta-merta mengatakan wanita lebih pembohong jika interaksi yang dilakukan wanita 2 kali lipat dibandingkan pria. Keduanya harus dilihat sama sering melakukan kebohongan. Jika misalnya dalam sehari pria hanya melakukan 2 interaksi tapi berbohong 6 kali, sedangkan wanita melakukan 5 interaksi dalam sehari dan berbohong 10 kali, maka tentu saja pria lebih sering berbohong daripada wanita. Karena dalam 1 interaksi, pria berbohong 3 kali sedangkan wanita berbohong hanya 2 kali setiap interaksi.

Seperti kita ketahui, wanita melakukan hubungan sosial dengan orang lain secara lebih akrab ketimbang yang dilakukan pria. Mereka juga membuka diri lebih banyak dan memberikan dukungan sosial, terutama dukungan emosional lebih banyak pada orang lain. Lihat saja, bagaimana akrabnya relasi yang dijalin dalam pertemanan sesama perempuan. Arisan pun bisa menjelma ajang persaudaraan. Jika ada seseorang yang menderita kesusahan, dukungan emosional lebih banyak datang dari kaum wanita daripada kaum pria. Siapa yang menghibur seorang yang ditinggal mati pasangan hidupnya? Lebih banyak wanita melakukannya.

Pada umumnya diakui bahwasanya wanita lebih hangat bahasa tubuhnya. Mereka tersenyum lebih banyak, lebih memperhatikan pendengarnya ketika berbicara, mendekati orang lain lebih dekat dan melakukan sentuhan pada orang lain lebih banyak. Lihat saja, pada saat bertemu temannya, mereka biasanya langsung mengambil posisi dimana tubuh bersentuhan, sementara pria malah berusaha menghindari persentuhan fisik. Biasa bukan jika antar sahabat wanita saat bertemu saling mencium atau menyentuhkan pipi. Pernahkah itu dilakukan kaum pria? Sangat jarang kaum pria melakukannya.

Kenyataan diatas dimungkinkan menyebabkan kaum wanita berbohong lebih banyak pada jenis-jenis kebohongan yang berorientasi orang lain daripada yang berorientasi diri sendiri. Banyak kebohongan dilakukan kaum wanita untuk menunjukkan dukungan sosial kepada orang lain dan untuk menjaga perasaan orang lain.

Pada saat terjadi interaksi yang hanya melibatkan wanita, kebanyakan kebohongan yang dibuat adalah kebohongan mengenai orang lain di luar diri si pembohong maupun yang dibohongi. Jadi ada pihak ketiga yang dijadikan sumber kebohongan. Bergosip adalah kata yang tepat ini. Menggosipkan tetangga, menggosipkan artis sampai menggosipkan guru di sekolah anaknya.

Apakah wanita berbohong lebih banyak tetap masih perlu diperdebatkan. Kenyataannya, jumlah waktu yang dihabiskan kaum wanita untuk melakukan interaksi sosial memang lebih banyak dibandingkan pria. Selain itu mereka juga memikirkan orang lain lebih sering dan mengenang orang lain lebih kuat. Oleh karena itu mungkin saja kaum wanita membuat kebohongan lebih banyak.

Faktor kemanfaatan bagi orang lain

Mungkin Anda berbohong bukan untuk diri Anda tapi untuk orang lain. Misalnya pada saat Anda diminta teman Anda untuk membohongi pacarnya kalau teman Anda itu sedang bersama Anda, padahal teman Anda sedang bersama selingkuhannya. Demikian juga saat kakak Anda dicari-cari preman yang mau menghajar, tentu saja Anda akan lebih suka berbohong kakak tidak di rumah daripada kakak Anda kena hajar.

Secara rinci, berikut beberapa alasan yang mungkin membuat Anda berbohong demi orang lain.

Melindungi atau meningkatkan keadaan orang lain secara psikologis
Melindungi atau menguntungkan kepentingan orang lain
Melindungi orang lain dari rasa malu, kehilangan muka, atau terlihat buruk
Melindungi orang lain dari ketidaksetujuan atau luka hati,
Melindungi orang lain dari kekhawatiran
Melindungi orang lain dari konflik
Melindungi orang lain dari ketidaknyamanan
Melindungi privasi orang lain
Membuat orang lain terlihat lebih baik dari yang sebenarnya
Membuat orang lain tampak berbeda dari sebenarnya
Mengatur perasaan, emosi dan mood yang dimiliki orang lain
Mendapatkan keuntungan personal bagi orang lain
Membuat sesuatu lebih mudah atau lebih nyaman bagi orang lain
Membantu orang lain mendapatkan informasi yang diinginkan
Membantu orang lain mendapatkan apa yang diinginkan
Melindungi orang lain dari hukuman fisik
Melindungi aset, properti atau harta orang lain
Melindungi keamanan orang lain
Melindungi orang lain dari kehilangan status atau posisi tertentu
Melindungi orang lain dari sesuatu yang mengganggu atau yang tak ingin dilakukan

Faktor kemanfaatan bagi pembohong

Mengapa Anda mau berbohong? Salah satunya adalah karena bohong memberikan manfaat kepada Anda, baik secara langsung maupun tidak. Jikalau berbohong merugikan Anda, kira-kira apakah Anda mau berbohong? Terdapat beberapa manfaat yang bisa diraih jika melakukan kebohongan. Kemanfaatan bagi diri si pembohong bisa berupa kemanfaatan psikis maupun fisik dan material. Mungkin Anda hanya bisa mendapatkan satu manfaat dari satu kebohongan. Akan tetapi mungkin juga beberapa manfaat bisa sekaligus Anda dapatkan dari satu kebohongan.

Berikut adalah manfaat-manfaat yang mungkin bisa didapat dari melakukan kebohongan dan menjadi sebab seseorang melakukan kebohongan. Coba Anda ingat-ingat mana yang paling sering Anda lakukan.

Melindungi kepentingan
Menguntungkan kepentingan
Menimbulkan respon emosional tertentu yang diinginkan
Melindungi dari rasa malu, kehilangan muka, atau terlihat buruk
Melindungi dari ketidaksetujuan
Melindungi dari rasa terluka
Melindungi dari kekhawatiran
Melindungi dari konflik
Melindungi dari ketidaknyamanan
Melindungi privasi
Membuat terlihat lebih baik dari yang sebenarnya
Membuat tampak berbeda dari sebenarnya
Mengatur perasaan, emosi dan mood yang dimiliki
Mendapatkan keuntungan personal bagi
Membuat sesuatu lebih mudah atau lebih nyaman
Membantu mendapatkan informasi yang diinginkan
Membantu mendapatkan apa yang diinginkan
Melindungi dari hukuman fisik
Melindungi aset, properti atau harta
Melindungi keamanan
Melindungi dari kehilangan status atau posisi tertentu
Melindungi dari sesuatu yang mengganggu atau yang tak ingin dilakukan

Faktor konteks sosial penyebab kebohongan

Coba Anda ingat, pernahkah Anda berada dalam situasi dimana Anda mau tidak mau harus berbohong? Apakah Anda akan mengatakan yang sesungguhnya pada mertua Anda bahwa Anda disakiti oleh anaknya? Sangat mungkin Anda akan mengatakan tidak kepadanya. Pada saat calon mertua Anda menanyai Anda apakah Anda masih bujang asli. Maka apa jawaban Anda? Jika Anda menjawab sudah tidak lagi, Anda akan kehilangan muka, plus kehilangan anaknya. Jika menjawab masih, itu bohong namanya. Nah, apa yang Anda pilih?

Bagaimana sikap Anda terhadap pejabat tinggi negara di Jakarta dengan petani penggarap lahan di Bantul? Sudah tentu berbeda. Apakah Anda akan mengatakan ‘jelek’, gaya berpakaian sang pejabat jika Anda diminta menilainya? Sangat mungkin Anda akan mengatakan tidak jelek, meskipun sebenarnya Anda menilainya jelek. Seperti kata Emha Ainun Nadjib, “Di depan pak Menteri, bola tenis itu tahu”. Lha jelas, masa’, main tenis lawan pak menteri habis-habisan. Itu artinya tidak tahu diri. Jadi, terang ada situasi-situasi dimana seseorang didorong untuk berbohong.

Terdapat banyak situasi dimana seseorang didorong untuk berbohong. Misalnya pada situasi kerusuhan, maka kebohongan lebih banyak beredar. Apakah Anda akan mengaku warga kampung A pada warga kampung B yang menyerang kampung A, meski Anda warga kampung A? Anda mati konyol kalau mengaku warga kampung A.

Berbohong juga biasa dilakukan pada saat menghadapi pihak yang lebih berkuasa dan otoritatif, seperti pada saat menghadapi mertua di atas. Pada saat menghadapi harapan sosial, biasanya seseorang juga cenderung berbohong ketika tidak bisa memenuhinya. Misalnya Anda seorang sarjana komputer, maka diharapkan Anda bisa memperbaiki komputer rusak. Nah, padahal Anda sudah lupa sama sekali soal komputer karena telah lama tidak mengutak-utik komputer. Jika Anda menjawab tidak bisa, itu artinya menentang harapan sosial yang ditujukan pada Anda sebagai seorang sarjana sosial. Jika menjawab bisa, Anda toh masih bisa membawanya ke bengkel reparasi.

Pada situasi yang membutuhkan penghiburan, bukankah seseorang juga didorong untuk berbohong? Apakah Anda akan mengatakan pada teman Anda bahwa kanker yang dideritanya akan membunuhnya dalam 1 bulan? Lha sangat mungkin Anda hanya akan mengatakan baik-baik saja padanya. Itu bohong bukan?!

Faktor kepribadian penyebab kebohongan

Apakah Anda menemui orang di sekitar Anda yang sering melakukan kebohongan? Jika iya, apa pendapat Anda? Sangat mungkin Anda menuduhnya memiliki kepribadian tertentu yang membuat orang tersebut menjadi lebih pembohong. Biasanya, mereka yang melakukan kebohongan jauh lebih banyak daripada umumnya orang disebut pseudologia fantastica. Adapun kecenderungan patologis untuk secara rela dan sadar berbohong dan membuat cerita khayalan disebut mythomania.

Para penderita mythomania memiliki kecenderungan sangat kuat untuk membuat cerita bohong pada orang lain namun bukan karena ingin membohongi. Mereka berbohong lebih karena keinginan mendapatkan perhatian lebih besar. Jadi, bila Anda mengalami keinginan sangat kuat untuk lebih diperhatikan oleh orang lain, lalu karenanya mengarang cerita bohong, dan Anda sering melakukannya maka Anda, mengalami mythomania.

Menurut banyak ilmuwan psikologi, ada tipe kepribadian tertentu yang cenderung untuk melakukan kebohongan lebih banyak daripada orang lain. Berbeda dengan mythomania yang merupakan kecenderungan patologis atau ketidakberesan mental. Ada jenis kepribadian tertentu yang normal namun cenderung untuk lebih mudah berbohong. Kepribadian yang seperti apakah yang cenderung untuk lebih mudah berbohong itu?

Mereka yang cenderung melakukan kebohongan adalah mereka yang cenderung memiliki kepribadian manipulatif (lebih suka memanipulasi segala sesuatu), lebih memperhatikan penampilan diri (baik secara psikis maupun fisik) dan lebih mudah melakukan interaksi sosial dengan orang lain (sociable). Coba Anda perhatikan di sekitar Anda, jika ada orang yang semacam itu maka ia lebih mungkin untuk melakukan kebohongan, meskipun tentu saja Anda tidak bisa menuduhnya. (untuk keterangan lebih lengkap mengenai faktor kepribadian yang mempengaruhi berbohong, baca bab siapa berbohong)

Apa sebab orang berbohong?

Sebuah penelitian di Amerika yang dilakukan oleh NIMH (National Institute of Mental Health) menunjukkan bahwa dalam seminggu, orang berbohong terhadap 30% orang lain dalam komunitas. Mahasiswa malah menunjukkan angka 38% jumlah orang yang mereka bohongi. Jadi kira-kira, dari 100 orang yang diajak berinteraksi dalam seminggu, maka ada 38 orang yang telah dibohongi. Luar biasa bukan?!

Apabila kebohongan memang sangat masif dilakukan, tentunya ada alasan mengapa bohong menjadi penting dilakukan. Tidak ada sesuatu tanpa sebab bukan?! Nah, apa yang menyebabkan timbulnya kebohongan? Sekurang-kurangnya terdapat 4 faktor penyebab orang berbohong, yaitu :

1.
Faktor kepribadian, yakni adanya pribadi-pribadi tertentu yang cenderung untuk selalu berbohong
2.
Faktor konteks sosial, yakni adanya konteks sosial tertentu yang membuat orang melakukan kebohongan.
3.
Faktor kemanfaatan bagi pembohong, yakni adanya kemanfaatan yang dicapai bagi pelaku kebohongan.
4.
Faktor kemanfaatan bagi orang lain yakni adanya kemanfaatan bagi orang lain.

Apakah berbohong harus punya alasan?

Pada saat Anda melakukan kebohongan, apakah Anda menyadari mengapa Anda melakukannya? Jika Anda menyadari, maka itulah alasan Anda berbohong. Menurut sebagian ahli, sebagian besar kebohongan yang dilakukan manusia memiliki alasan. Artinya, kebohongan adalah perilaku yang memang sudah diatur sedemikian rupa oleh pelakunya. Walapun begitu, ada beberapa kebohongan yang mengalir begitu saja tanpa pelakunya sadar sebelumnya. Tahu-tahu sudah berbohong begitu saja. Baru disadari berbohong setelah melakukannya.

Coba Anda ingat-ingat apakah Anda pernah berbohong dengan spontan? Dalam situasi apa Anda mengalaminya? Bohong spontan boleh dibilang muncul karena kebiasaan. Mereka yang sering melakukan kebohongan secara spontan, biasanya memang sudah terbiasa untuk berbohong. Kita tahu bahwa berbohong dianggap berbohong bila pelaku memiliki motivasi untuk berbohong. Pada bohong yang spontan, pelaku memiliki motivasi berbohong namun karena telah terlatih sedemikian rupa, maka kemunculan bohongnya seolah-olah tanpa sebab.

Berbohong itu seperti seni atau keterampilan. Semakin sering diasah maka akan semakin piawai dalam berbohong. Pada awal mulai kebohongan, seorang amatir akan mudah ditebak kalau sedang berbohong. Namun setelah beberapa waktu, ia akan makin mahir sehingga semakin sulit dideteksi. Pembohong sendiri akan semakin spontan dalam berbohong sehingga seolah-olah tanpa motivasi berbohong. Pendek kata, setiap berbohong pasti ada sebabnya, baik sebab itu disadari atau tidak.

Bagaimana bohong dilakukan tapi tanpa tahu bahwa yang dilakukannya merupakan kebohongan? Tentu saja itu bukan berbohong meskipun cerita bohong yang disampaikan.

Apakah yang ditunjukkan dalam kebohongan?

Setiap kebohongan memiliki sesuatu yang ditunjukkan atau yang dijadikan semacam referensi. Bisa jadi yang menjadi referensi adalah diri si pembohong sendiri, target yang dibohongi, orang lain, atau objek tertentu. Misalnya Anda berbohong pada teman Anda, bahwa tetangga Anda setiap hari ribut dengan tetangganya yang lain. Siapa dalam bohong itu yang ditunjukkan? Tentu saja tetangga Anda. Teman Anda adalah korban kebohongan.


1. Pembohong sebagai penunjuk
Bohong yang diungkapkan menunjuk sesuatu tentang diri pembohong, misalnya apa yang telah dilakukan atau dirasakan.
Contoh :

* Saya mengatakan padanya bahwa saya dulunya adalah seorang atlet (diri sendiri sebagai referensi)
* Saya bertemu seorang gadis dan membuatnya percaya kalau saya bujangan (diri sendiri sebagai referensi)


2. Target kebohongan
Bohong yang diungkapkan menunjuk sesuatu tentang sasaran kebohongan. Jadi, yang dijadikan referensi adalah sasaran atau target kebohongan itu sendiri.
Contoh :

*
Kamu kan pernah bilang kalau kamu sudah makan (referensinya adalah target)
*
Ingat tidak, barang ini adalah milikmu saat kecil dulu (padahal itu barang baru)


3. Orang lain
Bohong yang diungkapkan menunjuk sesuatu mengenai seseorang di luar diri si pembohong dan sasaran kebohongan.
Contoh :

*
Orang ini bilang kalau ia menyukai Vina pada saat Vina membencinya (padahal
tidak ada orang yang bilang suka Vina)
*
Seseorang di bus memiliki warna rambut yang indah, tidak sepertimu (padahal
tidak ada orang di bus yang demikian)

4. Objek atau kejadian
Bohong yang diungkapkan menunjuk sesuatu tentang objek, kejadian atau tempat tertentu.
Contoh :

*
Rumahnya dipenuhi hantu
*
Motornya masih sangat bagus

Apakah tipe kebohongan?

Bohong berdasarkan tipe manipulasi artinya adalah bagaimana sebuah realitas dimanipulasi untuk menimbulkan sebuah kebohongan. Terdapat 3 kelompok kebohongan yang bisa dibuat, yakni pengingkaran, melebih-lebihkan, dan pemalsuan/penyembunyian. Masing-masing melakukan manipulasi berbeda terhadap realitas.

1. Bohong berupa pengingkaran.
Bohong ini artinya secara mutlak mengabaikan atau menghindari kebenaran yang ada, atau penghindaran 180% terhadap yang ada. Bohong berupa pengingkaran realitas sangat mudah ditemui. Misalnya Anda pernah ke Jogja, namun Anda mengatakan belum pernah ke Jogja. Anda ingin makan sate tapi Anda mengingkari dan mengatakan tidak ingin sate. Sangat banyak contoh untuk hal ini. Pengingkaran artinya menyatakan tidak ada pada yang ada, dan menyatakan ada pada yang tidak ada. Anda membaca buku ini? Jika Anda berkata tidak, maka Anda berbohong berupa pengingkaran.

Mengaku-ngaku termasuk bohong pengingkaran karena mengingkari yang tidak ada. Misalnya Toni mengaku pernah kuliah di Singapura, padahal ia sama sekali tidak pernah ke luar negeri. Iwan mengaku memiliki pacar, padahal ia tidak punya pacar. Idang mengaku pernah melakukan hubungan seksual dengan perempuan, padahal bersentuhan dengan perempuan saja tidak pernah. Pendek kata, kalau Anda mengaku-aku yang tidak ada, maka Anda bohong pengingkaran.

Beberapa contoh :
- Saya tidak pernah merokok (padahal pernah merokok)
- Saya pernah ke Jakarta (padahal belum pernah)
- Saya menyukai film tadi (padahal tidak suka)
- Saya tidak kecewa kok (padahal kecewa)

2. Bohong berupa melebih-lebihkan
Bohong yang dilakukan dimana pembohong melebih-lebihkan fakta yang sebenarnya atau memberi kesan lebih benar. Misalnya Joko hanya memiliki kebun salak seluas 1 hektar, tapi dikatakan sangat luas sehingga kesannya puluhan hektar. Beberapa contoh lain :

Berdasarkan buku yang saya baca, rambut panjang itu yang paling indah (padahal tidak ada buku yang mengatakan demikian)
Maafkan kesalahan saya yang tak terampuni, telah terlambat 5 menit (padahal biasa kan?!)
Tempat ini membuatku muntah, sangat mengecewakan (padahal biasa saja)

3. Bohong berupa pemalsuan & penyembunyian
Maksud bohong pemalsuan atau penyembunyian adalah penghindaran atau penghilangan detail yang relevan dan disampaikan seolah-olah sebagai kebenaran harfiah, padahal telah didesain untuk menyesatkan. Jika Anda berupaya menyembunyikan apa yang Anda lakukan agar tidak diketahui orang lain maka itu termasuk bohong kategori ini. Misalnya Anda pergi ke toko sepatu karena Anda ingin membeli sepatu bola dengan membawa uang 100 ribu. Begitu sampai, Anda berkeliling melihat berbagai macam jenis sepatu bola. Ternyata semua harganya di atas 150 ribu. Pada saat Anda ditanya pelayan apakah sedang mencari sepatu bola. Anda menjawab lihat-lihat saja dulu. Artinya tersirat Anda ingin membeli tapi hasrat itu Anda sembunyikan karena Anda memiliki uang kurang. Lalu misalnya pada saat ada lowongan kerja yang membutuhkan lulusan SMA, Anda mengaku tamat SMA, padahal Anda sebenarnya juga lulus perguruan tinggi. Anda berbohong menyembunyikan fakta bahwa Anda tamat perguruan tinggi, tapi Anda benar menyampaikan bahwa Anda tamat SMA. Jadi ada fakta yang disamarkan untuk disembunyikan.

Salah satu bentuk bohong penyembunyian yang paling umum dilakukan adalah mengutip tulisan orang lain tanpa mencantumkan orang yang dikutip. Pembaca bisa saja mengira bahwa hal tersebut merupakan hasil tulisan sendiri. Padahal sebenarnya hanya merupakan kutipan. Dalam kondisi ini maka seorang penulis bisa dianggap berbohong. Termasuk dalam tipe bohong penyembunyian adalah pemberian suap. Tidak ada suap yang diberikan dengan dikatakan sebagai suap, biasanya dikatakan sebagai hadiah karena memang berupa hadiah atau fasilitas. Maksud sebenarnya dari pemberian, yakni suap, disembunyikan.

Bohong berupa pemalsuan biasa terjadi dalam bentuk plagiarisme. Mereproduksi hasil karya orang lain adalah salah satu bentuk kebohongan jika tidak diberi keterangan apa-apa mengenai reproduksi itu. Hal ini disebabkan karena tanpa keterangan seseorang bisa mengganggap karya tersebut asli. Jadi, jika Anda mereproduksi lukisan karya Joko Pekik yang berjudul ‘babi’, maka cantumkanlah keterangan ‘reproduksi karya Joko Pekik, yang berjudul ‘babi’, oleh Joko Bodo (jika nama Anda Joko Bodo).

Bentuk paling umum bohong pemalsuan berupa karangan non fiksi, baik novel, cerpen atau yang lain. Secara realitas, tidak pernah ada bentuk cerita seperti yang diceritakan. Begitu juga cerita film. Realitas sesungguhnya di dunia nyata tidak ada. Adapun yang ada adalah realitas aktor-aktor bermain peran.


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Free Ebook