Tampilkan postingan dengan label E-book : Tentang Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-book : Tentang Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Desember 2008

Motivasi Melalui Percaya Diri

Aset paling berharga bagi banyak orang adalah juga aset yang paling belakangan dihargai. Aset itu, bila ditangani dengan semestinya, akan mampu memberikan hasil secara dramatis. Aset yang tidak dapat dikenakan harga setinggi apapun. Itulah otak manusia, pikiran dan proses berfikir.

Otak merupakan kawasan penyimpanan yang kapasitasnya luar biasa, menjadi pentinglah untuk berhati-hati di dalam mengisinya. Sebagian orang mempunyai otak yang penuh dengan pemikiran dan pengalaman negatif. Mereka akan secara terus-menerus menanamkan masukan saya tidak mampu dengan setumpuk alasan mengapa mereka tidak mampu. Sehingga ketika dihadapkan pada sebuah kesempatan atau tantangan baru, otak mereka, ketika ditanya, mengirimkan jawaban: Tidak, kamu tidak mampu, atau tanggapan lain semacam itu.

Lima langkah yang diperlukan untuk membangun kepercayaan diri dan yang pada gilirannya membangun rasa percaya diri bagi motivasi diri dari dalam.

Hindari Mencari-Cari Alasan
Begitu banyak orang mengurungkan niat mereka dengan mengajukan alasan yang tidak masuk akal dan samasekali salah. Seperti:
- Saya tidak bisa
- Saya tidak mampu sebab...
- Pendidikan saya belum memadai
- Saya sudah terlalu tua
- Saya masih terlalu muda, dll
Siapapun dapat mencari alasan bagi hampir segalanya, maka dalam membangun kepercayaan diri, jangan sekali-kali membuat alasan. Hal itu mungkin sangat menyenangkan dan menentramkan hati, tetapi alasan-alasan hanya akan menghamabat seseoarang dari pencapaian sasaran. Ingatlah bahwa otak Anda adalah kawasan penyimpanan -- apa yang Anda masukkan pada gilirannya akan keluar lagi, jadi gantilah penyisipan hal-hal negatif dengan hal-hal positif.

Gunakan Daya Imajinasi
Otak dengan kapasitasnya yang tidak terbatas dapat membantu Anda dengan tanpa batasan mencapai ambisi hidup jika Anda memberinya kesempatan. Biarkan dia menggambarkan diri Anda sebagai pribadi yang Anda inginkan. Dengan jelas menggambarkan apapun wujud yang Anda inginkan. Semakin Anda memikirkan itu semua semakin besar kepastian akan suatu hasil yang positif.
Jika Anda terus menerus membiarkan pikiran Anda dipenuhi dengan bermacam-macam pemikiran mengenai penyakit dan kesehatan yang buruk, Anda hampir pasti akan mengalami penyakit yang Anda pikirkan. JIka Anda terus menerus memikirkan hasil negatif tentang pergaulan atau karier bisnis, pemikiran itu pada gilirannya akan mengakar dalam diri Anda.
Maka dalam proses membangun kepercayaan diri dengan menmggunakan proses kesan daya imajinasi otak, pentinglah untuk menjadi yakin bahwa apa yang sedang Anda pikirkan dan lihat dengan jelas adalah hal yang positif. Hal yang positif itu harus memungkinkan kesan positif pada diri Anda dan peningkatannya, serta pemikiran positif itu harus mengarah ke sasaran Anda, cita-cita dan kebahagiaan dalam hidup.

Jangan Takut Gagal
Kegagalan telah mengahalangi begitu banyak orang sehingga mereka mundur sebelum mencoba, berbuat atau meraih keberhasilan sebab mereka tidak mampu menerima terminologi dimana ada kemungkinan untuk gagal. Sebagian orang benar-benar tidak pernah mencoba sesuatupun sebab rasa takut gagal ini telah menguasai otak mereka selama bertahun-tahun. Setiap hari mereka memikirkan kegagalan ini sehingga mereka tidak pernah sungguh-sungguh melakukan sesuatu dan pada akhirnya mereka tidak percaya diri dan penuh keraguan.

Penampilan Membentuk Kepercayaan Diri
Penampilan luar memang bukan segalanya. Kadang-kadang perlu untuk membelanjakan uang demi penampilan luar yang menarik, karena dengan penampilan luar yang menarik memberi kesempatan yang ada dalam diri Anda untuk merasa baik. Tetapi haruslah tetap bersikap realistis. Sebagian orang bersikap berlebihan dalam penampilan mereka dan pada akhirnya semua itu hanya demi kepuasan ego mereka.

Susunlah Catatan Mengenai Sukses Yang Diperoleh
Setiap orang pernah mencapai sukses dalam hidupnya. Cara mengumpulkan catatan sukses masa lalu sangat sederhana. Pikirkan balik sukses Anda yang paling awal yang mungkin terjadi pada masa sekolah ketika memenangkan lomba balap kelereng atau balap karung. Mungkin juga berawal dari ucapan selamat ketika memenangkan lomba mengambar atau melukis. Ini bisa dulakukan secara lisan pada suatu audio kaset atau buku catatan. Anda bisa melihat kembali catatan dan memperbaharui aset paling berharga Anda dengan kenangan akan sukses tersebut.

Motivasi hanya dapat mengabadikan diri berdasarkan harapan. Untuk memotivasi diri, seseorang harus memiliki harapan tentang sebuah masa depan. Oleh karena itu dalam memotivasi diri seseorang bertanggung jawab untuk menciptakan sendiri harapannya.

Rabu, 24 Desember 2008

E-book : Tentang Motivasi

Dimana kita selalu di hadapkan pada sebuah posisi yang tidak selalu menguntungkan dalam menghadapi hidup ini. Maka diperlukanlah sebuah kata, kalimat, fakta bahkan sahabat, istri, suami, dan orang – orang di sekitar kita untuk memberi kita sebuah motivasi dalam menjalani hidup ini agar tetap selalu dalam yang lurus.

Harta Karun Termahal

Salah satu jenis film tontonan yang kerap saya lihat dulu ketika berumur masih amat muda, adalah perjalanan sejumlah orang mencari harta karun di tempat yang amat jauh. Menarik, seru dan menegangkan, itulah alasan kami ketika itu duduk di bioskop atau di depan tv ber jam-jam. Menarik, karena menghadirkan pengalaman perjalanan yang disertai pemandangan daerah pedalaman yang indah. Seru, sebab disertai adegan-adegan yang susah ditebak arahnya. Menegangkan, terutama karena serangkaian tantangan berat senantiasa menghadang di depan mata.

Ketika itu, tidak pernah terbayangkan sedikitpun kalau perjalanan hidup ini amat serupa dengan perjalanan mencari harta karun. Menarik, tentu saja karena pemandangan-pemandangan yang hadir di depan mata demikian bervariasi. Demikian menarik dan asyiknya, sampai-sampai ada banyak sekali orang yang tidak sadar kalau satu tahun sudah berlalu. Atau tiba-tiba baru sadar kalau umur sudah tua, terutama setelah melihat putera-puteri beranjak dewasa. Disamping mengasikkan, ada tidak sedikit manusia yang amat takut kematian. Apa lagi sebabnya kalau bukan karena daya tarik sang hidup yang demikian memikat. Disamping menarik, perjalanan sang hidup juga seru, sebab tidak jarang terjadi kita harus ‘berperang’ dengan banyak kekuatan.

Ada perang melawan diri sendiri, ada perang melawan ketidakjujuran, ada perang melawan ketertindasan, dan masih banyak lagi perang lainnya. Dan terakhir tentu saja juga menantang, secara lebih khusus karena tidak seorangpun tahu bagaimana persisnya wajah masa depan. Tiba-tiba tanpa persiapan memadai ia hadir di depan mata.

Bedanya, kalau dalam film-film di atas, jelas dan tegas harta karunlah yang digunakan sebagai sasaran buruan. Dalam perjalanan kehidupan, sasaran buruannya disamping berbeda dari satu orang ke orang yang lain, juga bergerak dan berubah sejalan dengan kedalaman renungan masing-masing.

Ada memang sekumpulan manusia yang seluruh hidupnya hanya digunakan mencari harta dan tahta. Dan bahkan sampai di ujung kehidupanpun masih menangisi harta yang ditinggalkan. Di bagian lain, ada juga manusia yang sama sekali tidak perduli akan harta dan tahta. Satu-satunya yang ia perdulikan hanyalah perjalanan menuju Tuhan. Di antara dua kutub ekstrim ini, kadang ada sisa-sisa renungan yang tercecer. Sekaligus menghadirkan pertanyaan mendasar, apakah yang kita cari dalam perjalanan hidup yang demikian melelahkan ini ?

Bagaimana tidak melelahkan, saya menghabiskan hampir dua puluh tahun duduk di bangku sekolah formal. Bergelut dengan kehidupan kerja hampir enam belas tahun. Berkelana dalam kehidupan pernikahan yang banyak godaan telah delapan belas tahun. Tidak sedikit di antaranya diwarnai air mata kesedihan, perang hati nurani, bahkan kadang mengancam nyawa. Dalam rangkaian perjalanan seperti ini, sangat layak kalau bertanya ulang, apa yang kita cari ?
Entah sampai di tataran pemahaman mana perjalanan Anda sejauh ini, tetapi semakin saya selami dan dalami, semakin saya tahu kalau hidup adalah sebuah perjalanan ke dalam diri.

Berbeda dengan harta karun yang harus kita cari, dan membawa kemungkinan terbukanya sebuah penemuan, harta karun kehidupan ada pada proses belajar. Ya sekali lagi ada pada proses belajar. Bukan pada tujuan akhirnya. Ini penting untuk dipahami dan didalami, karena perjalanan menemukan diri sendiri adalah sejenis perjalanan yang tidak mengenal garis finish.

Karena tidak ada titik akhirnya inilah, maka saya menaruh banyak hormat kepada sejumlah pilosopi timur yang menekankan pentingnya hidup di hari ini (living in the now). Tidak sekadar hidup berfoya-foya dan menghabiskan kenikmatan tentunya. Melainkan, hidup penuh kesadaran dan rasa syukur. Pada kesempatan lain, saya memang pernah mengutip tingkatan-tingkatan manusia ala seorang sahabat pengusaha. Dari manusia bodoh, pintar, licik sampai dengan manusia beruntung. Dan konon manusia beruntunglah yang tidak bisa dikalahkan oleh manusia licik.

Bercermin pada pentingnya hidup penuh kesadaran di hari ini, ada manusia yang lebih berbahagia dibandingkan manusia yang beruntung, yakni manusia yang tidak lagi terikat pada apapun. Ketika dipuja karena berada di atas, ia yakin harta dan tahtalah yang dipuja orang. Tatkala dihina karena jatuh ke lumpur kehidupan, ketiadaan harta dan tahta yang membuatnya jadi demikian. Dengan kata lain, diri ini yang sebenarnya tidaklah pernah disentuh pujian dan makian. Oleh karena itu, kenapa mesti gembira ketika dipuji dan menangis ketika dimaki ? Demikianlah pilihan sikap manusia-manusia langka yang sudah bebas dari keterikatan.

Tidak ada satu kekuatanpun yang bisa mendikte orang jenis terakhir. Ketika sibuk dalam kerja ia menikmati kerjanya dengan suka cita. Tatkala PHK menghadang ia habiskan waktunya untuk belajar pilosopi dan agama. Mana kala anak-anak masih kecil, kita ajak mereka hidup dalam tawa dan canda. Dan bila mereka sudah besar dan mandiri, kalau dibantu hidup syukur, kalau tidak dibantu bisa jadi jalan hidup sudah seperti itu.

Dalam hidup yang tidak lagi dibelenggu keterikatan, yang ada hanyalah kebebasan dan keikhlasan di depan Tuhan. Entah Anda setuju entah tidak, sampai dengan perjalanan hidup saya sekarang, inilah berkah dan harta karun terbesar yang pernah diberikan ke saya. Dengan kerendahan hati di depan Tuhan, saya hanya bisa berucap lirih : ‘terima kasih Tuhan !’.

Belajarlah teruss

Ibu sepuh itu mengacungkan tangannya. Ia telah 2 hari menginap di Cipanas, Puncak. Ia tidak ingin ketinggalan dari yang muda untuk mengikuti lokakarya. Ia tidak mau melewatkan setiap kesempatan, "Nama saya Siti Aminah ...," ucapnya memperkenalkan diri, sebelum mengajukan sebuah pertanyaan.

Tidak cukup di situ, begitu acara usai, ia mendatangi saya. Ia tanyakan berbagai hal. Berbagai pertanyaannya mengundang penasaran.

"Sekarang aktif di mana, Bu?"
"Saya hanya aktif di pengajian-pengajian. Tetapi sekarang saya menyusun skripsi."
"Skripsi?"
"Iya"
"Di mana, Bu?"
Di IAIN Jakarta."
"Usia Ibu berapa?"
"67 tahun."
"67 tahun? Menyusun skripsi?"
"Iya. Dulu kuliah saya terhenti karena harus mengurus anak-anak. Sekarang anak saya sudah selesai semua, juga dari pascasarjana."

Belum lenyap keterkesimaan saya, Bu Aminah bercerita tentang perjalanan skripsinya. Ia katakan telah mengajukan sebuah judul. Namun, pembimbingnya menyarankannya mengganti judul itu. "Katanya, materi yang dulu seperti ceramah. Jadi, harus saya rubah." Ada nuansa riang dari kata-katanya itu.

Lebih dari 15 tahun yang lalu saya tersentak ketika seorang teman senior Tuti Kakiailatoe, di usia 40-an, mengundurkan diri dari kerja. Ia ingin berkonsentrasi menyelesaikan S1-nya. Ia berhasil melakukannya. Sesudahnya, ia bahkan ke Amerika untuk menempuh program master hingga PhD. Ia tuntaskan semua itu, ketika usianya sudah 50-an.

Kini, "rekor" itu hendak dipecahkan oleh Bu Aminah. Ia akan menyelesaikan program S1 di saat usianya mendekati 70 tahun. Sebuah prestasi yang layak mendapatkan penghargaan "Pembelajar Sejati" dari negara.

Bayangkan bila semua orang seantusias Bu Aminah untuk terus belajar. Negeri dan bangsa ini tidak akan seporak-poranda sekarang. Negeri ini tentu sudah dapat bangkit kembali dari hantaman krisis, seperti Korea Selatan, atau setidaknya, seperti Thailand. Negeri ini tidak akan menjadi bulan-bulanan, baik oleh kepentingan politik asing, maupun oleh penjarah-penjarah lokal.

Rasul, secara sangat jelas, mengatakan bahwa mencari ilmu adalah "wajib" bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan. Mencari ilmu adalah tuntutan. Sejak dari buaian ibu hingga masuk liang lahat. Tetapi, kata-kata Rasul itu berlalu begitu saja.

Banyak orang lebih sibuk mencari posisi. Posisi yang akan membuatnya dapat mengeruk harta lebih banyak lagi. Mungkin saja ia seorang intelektual, politikus, pejabat, atau pemimpin umat. Apakah dengan posisi terhormat itu masih harus menjadi "murid"?
Saya teringat almarhum Pak Makagiansar. Mantan pejabat penting lembaga dunia di bawah PBB itu acap menyebut diri sebagai "siswa". Ia tidak segan belajar dari orang lain, siapa pun, tentang apa pun. Ia telah melatih diri untuk menjadi "pendengar" yang baik, sebuah ketrampilan yang sangat dikuasai Muhammad sang Rasul. Bagi para pembelajar, seperti pak Max, panggilan akrab sosok itu, posisi dan harta sama sekali bukan tujuan. Keduanya hanya akibat logis. Yang lebih penting adalah kita terus belajar.

Seorang siswa SMU pun bertanya, "Dulu pemimpin kita, seperti Soekarno, Sjahrir, dan Hatta hebat-hebat ..., mengapa sekarang menurun?"

"Mungkin para pemimpin sekarang perlu belajar dari Bu Aminah agar tidak melulu sibuk mengumpulkan kekuasaan dan kekayaan," bisik saya di dalam hati.

Pantai dan Pelajaran Hidup

Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan menikmati suasana pantai suatu negara antah berantah (dimana ... hayo .. he3x). Pantainya luas tanpa batas, ombaknya besar bergelombang menerjang tanpa henti, dan anginnya berhembus dengan kencang, tidak perduli ada anak manusia yang berdiri di pantai itu.

Yang menarik ... ada pelajaran hidup yang bisa dipetik dari kenikmatan bersantai sore itu ...

 Pantai luas tanpa batas, membuat orang yang berdiri di situ merasakan kekecilan/kekerdilan dirinya. Keciiil banget dah kata orang Betawi! Sungguh ... kecil dibandingkan besar pantai itu, yang notabene cuma bagian kecil dari benua yang cuma bagian dari dunia yang juga cuma bagian kecil dari sistem matahari kita yang bagian kecil dari ... dst dst. Di sisi lain, saya jadi merasakan ada sesuatu Yang Maha Besar, Maha Kuasa .... yang mengatur segala sesuatu di pantai itu.

 Ombak besar bergelombang bak tantangan hidup ini. Datang silih berganti tiada henti. Menerjang tanpa perduli. Kita yang kecil tadi harus bisa berdiri tegak melawan terjangan itu. Dan tidak cukup sekedar berdiri, kita harus maju balas menerjang. Apa bisa? Perlu alat, bantuan kali ya?

 Angin yang berhembus kencang bagaikan cepatnya hidup/waktu melewati kita. Kita mau ngomel kek, menyesali yang terjadi kek, marah kek, dia lewat saja tanpa perduli dengan cepatnya. So, mungkin ketimbang menyesali yang sudah ada, mungkin lebih baik kita ambil hikmahnya dan tertawa riang menyikapi yang sudah lewat ... :-)

 Setelah gelap, saya melilhat mobil yang melintasi pantai yang datar dan luas itu. Meski rata tanpa rintangan, sang pengemudi tetap menyalakan lampu agar ia bisa melihat jalan. Mungkin hidup juga begitu kali ya ... meski 'kaya'nya udah jelas, tetap kita perlu pedoman atau 'lampu' agar tidak nyasar. Itu kalau jelas ... lha kalau nggak jelas??

Hmmm .... what do you think? Any comments?

RULE YOUR MIND OR IT WILL RULE YOU

”Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk”

Pikiran merupakan hamba yang sangat berguna namun merupakan majikan yang paling kejam. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan pikiran anda. Berita baiknya, sebelum saya menjelaskan maksud pernyataan di atas, adalah bahwa manusia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini yang memiliki kemampuan berpikir mengenai proses berpikir. Istilah teknisnya adalah metakognisi. Berita buruknya adalah bahwa sangat banyak orang yang tidak sadar, tidak tahu, pura-pura tidak tahu, atau bahkan tidak mau tahu bahwa mereka sebenarnya memiliki kemampuan ini. Dan oleh sebab itu mereka tidak pernah sadar bahwa seumur hidup mereka telah menjadi budak atau hamba dari pikiran mereka sendiri.

Apapun yang terjadi di dalam hidup kita merupakan realisasi dari pikiran kita yang dominan. Semakin kita memikirkan hal yang tidak kita inginkan, maka kita semakin cenderung mendapatkannya. Ada seorang remaja putri, yang tidak suka dengan tingkah laku ibunya dan berkata, ”Nanti, kalau saya dewasa, saya tidak akan jadi seperti ibu saya.” Apa yang terjadi saat ia dewasa? Ia menjadi persis seperti ibunya. Mengapa? Karena semakin ia pikirkan bahwa ia tidak mau menjadi seperti ibunya, maka pikiran ini menjadi semakin dominan, semakin menguasai dirinya, dan dengan demikian mengarahkan ia untuk menjadi seperti ibunya.

Demikian juga orang gagal, yang pencapaian prestasi hidupnya rendah. Coba anda tanyakan pada mereka, ”Apa yang anda ingin capai dalam hidup?” Mereka akan selalu berkata, ”Saya ingin agar hidup saya tidak kekurangan, tidak miskin, tidak susah, tidak menderita, tidak ini...., tidak itu.....” Yang mereka katakan selalu apa yang tidak mereka ingin terjadi pada diri mereka. Namun yang tidak mereka sadari adalah semakin mereka fokus untuk menghindari apa yang tidak mereka inginkan maka pikiran mereka akan semakin membuat hal itu menjadi kenyataan.

Sebaliknya kalau orang sukses ditanya, ”Apa yang anda ingin capai dalam hidup?” maka mereka pasti akan menjawab, ”Saya ingin menjadi pengusaha sukses, saya ingin membantu orang yang tidak mampu dengan kekayaan saya, saya ingin mendirikan panti asuhan, saya ingin menyekolahkan anak ke luar negeri, saya ingin......., saya ingin........” Semua jawaban itu selalu yang positip. Anda bisa lihat bedanya sekarang?

Anda mungkin akan bertanya, ”Mengapa terjadi perbedaan hasil antara orang gagal dan orang sukses, padahal mereka memikirkan tujuan yang sama?” Sebelum saya jawab, saya perlu meralat pertanyaan anda. Mereka memang terkesan memikirkan hal yang sama, padahal tidak sama. Bukankah tidak mau hidup miskin sama dengan hidup dalam kelimpahan? Bukankah hidup tidak menderita sama dengan hidup senang atau bahagia? Secara bahasa, apa yang mereka nyatakan memang artinya sama. Tapi secara kerja pikiran, kedua pernyataan itu bertolak belakang. Lho, koq bisa?

Sekarang saya ingin bermain dengan pikiran anda sejenak. Coba anda lakukan hal berikut ini. Saya ingin anda untuk tidak memikirkan seekor gajah warna merah muda. Sekali lagi, saya minta anda tidak memikirkan gajah warna merah muda. OK! Berhenti sejenak. Lakukan eksperimen kecil ini. Setelah itu baru anda boleh meneruskan membaca.

Bila anda melakukan dengan benar apa yang saya minta maka pikiran anda malah memikirkan seekor gajar warna merah muda. Mengapa bisa terjadi demikian? Bukankah perintahnya tadi adalah anda diminta tidak memikirkan gajah merah muda?

Inilah perbedaan kerja bahasa dan kerja pikiran. Secara struktur kalimat, instruksi yang saya berikan sudah benar. Namun tidak demikian bila instruksi ini mau dilaksanakan oleh pikiran. Bahasa mengenal negasi. Pikiran tidak. Kalimat ”tidak memikirkan” secara kaidah bahasa memang berarti ” tidak boleh memikirkan atau jangan memikirkan”. Namun di pikiran, untuk bisa menegasi suatu pernyataan maka yang terjadi adalah harus terlebih dahulu muncul ”sesuatu” untuk kemudian dinegasi.

Dalam contoh yang saya berikan, untuk bisa ”tidak memikirkan gajah merah muda”, maka yang terjadi di pikiran adalah:

1. pikiran harus memunculkan gambar gajah warna merah muda
2. baru setelah itu pikiran akan menegasi gajah merah muda

Namun, begitu gambar gajah merah muda telah muncul di pikiran maka efek negasi tidak berlaku. Artinya, gambar gajah merah muda itu akan tetap berada di dalam pikiran. Semakin dominan pikiran itu maka semakin kuat pengaruhnya pada diri seseorang.

Hal ini sama efeknya dengan orangtua yang ”memotivasi” anaknya, yang malas belajar, dengan kalimat, ”Nak, jangan malas. Kalau malas kamu nggak bisa sukses”. Apa yang terjadi? Anaknya justru tambah malas dan tambah sulit sukses. Demikian juga saat orangtua mendorong anak untuk rajin bangun pagi dengan, ”Kalau bangun jangan suka telat. Jangan suka bangun siang. Nanti bisa telat masuk sekolah.” Apa yang terjadi? Anaknya tetap bangunnya telat. Mengapa bisa demikian?

Komunikasi mengandung tiga hal. Pertama adalah ide, kedua adalah gambaran mental, dan yang ketiga adalah emosi. Saat orangtua berkata jangan bangun telat, maka ini adalah ide. Selanjutnya dalam pikiran akan muncul gambar orang yang bangun telat. Setelah itu muncul emosi. Kalau emosi yang muncul adalah ia merasa enak kalau tidur sampai siang, maka kebiasaan ini akan semakin kuat.

Untuk dapat benar-benar bisa mengendalikan pikiran kita harus menyadari bahwa kita dan pikiran kita adalah dua hal yang berbeda. Dengan kata lain, kita menggunakan pikiran namun pikiran bukanlah diri kita. Diri kita adalah sebuah kesadaran yang menggunakan pikiran sebagai alat untuk menghasilkan buah pikir. Kesadaran ini merupakan langkah awal untuk mengendalikan pikiran. Untuk mudahnya anda cukup mengingat tiga hukum pengendalian pikiran berikut:

Hukum pengendalian pikiran yang pertama berbunyi: Buat pikiran anda memikirkan apa yang anda ingin pikirkan.

Pikiran selama ini telah dengan sangat bebas memikirkan apapun yang ”ia” inginkan. Dengan demikian selama ini pikiran yang mengendalikan diri anda. Sekarang, setelah menyadari hal ini, anda perlu membalik prosesnya, kenali bahwa pikiran hanyalah merupakan suatu aktivitas, yang dapat berjalan sesuai dengan keinginan anda. Untuk dapat mengendalikan pikiran, anda harus disiplin dalam menjalankan hukum pertama ini. Belajarlah untuk mengatur pikiran seperti anda menjalankan sebuah mesin. Anda dapat menyalakan atau mematikan menurut keinginan anda.

Hukum pengendalian pikiran yang kedua berbunyi: Buat pikiran anda berpikir saat anda menginginkannya berpikir dan berhenti berpikir saat anda menginginkannya berhenti.

Bagi kebanyakan orang pikiran mereka dapat melakukan apa saja, meskipun tanpa persetujuan mereka, sehingga pikiran yang menentukan apa yang akan ia pikirkan. Akibatnya, pikiran yang muncul sering kali tidak terkendali dan mengakibatkan pikiran yang kacau. Untuk mengatasi hal ini anda harus bisa menjadi tuan dari pikiran anda, bukan sebaliknya. Gunakan pikiran saat anda ingin menggunakannya dan tidak menggunakannya saat anda tidak ingin menggunakannya.

Dengan kata lain, anda harus belajar untuk bisa membuat pikiran menjadi tenang saat anda menginginkannya tenang.

Hukum pengendalian pikiran yang ketiga berbunyi: Menjadi pengamat dari pikiran yang anda pikirkan.

Semakin ahli anda dalam memainkan peran sebagai pengamat dalam mengamati pikiran maka anda akan semakin mampu menguasai pikiran. Mainkan peran pengamat dalam setiap bentuk kegiatan mental yang anda lakukan. Jadikan hal ini sebagai sebuah kebiasaan. Bila anda mampu menjadikan peran pengamat sebuah kebiasaan, maka kebiasaan ini akan sangat membantu mengembangkan kemampuan persepsi anda. Selanjutnya anda akan mampu mengendalikan pikiran dan berpikir secara sadar.

Pada mulanya, keadaan pikiran orang pada umumnya relatif tidak terstruktur, obyektif, fleksibel, dan terbuka terhadap pengalaman belajar baru. Seiring berjalannya waktu, kondisi ini perlahan tapi pasti berubah menjadi semakin kaku, bias, dan sulit menerima persepsi, pembelajaran, atau respon yang tidak dapat diterima oleh struktur sebelumnya. Pada akhirnya, seluruh ruang lingkup kesadaran pikiran sadar didikte dan tunduk pada kerangka berpikir yang tadinya dibentuk sebagai landasan untuk mengembangkan kemampuan berpikir itu sendiri.

Pikiran sadar atau rasional sebenarnya merupakan pikiran yang paling tidak rasional. Mengapa demikian? Pikiran rasional, berdasarkan kesan yang diterimanya melalui perspektif yang terbatas, membentuk struktur-struktur yang kemudian menentukan apa yang akan diterima dan ditolaknya secara bebas. Mulai saat itu tidak peduli bagaimana dunia berjalan, pikiran rasional akan mengikuti aturan yang diciptakannya sendiri dan mencoba memaksa dunia mengikuti aturan itu. Celakanya lagi, kita menggunakan pikiran sadar untuk berpikir, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan satu kutipan favorit saya sebagai berikut:
”I think, therefore I am” (Descartes)

Bila diterjemahkan bebas artinya ”Saya berpikir, maka saya ada”. Sebaliknya ada pihak yang menentang pendapat Descartes dengan berargumentasi, “Saya ada, maka saya bisa berpikir”.

Nah, pertanyaan saya pada anda, manakah yang benar ”Saya berpikir, maka saya ada”, ataukah ”Saya ada, maka saya bisa berpikir”?

Selamat berpikir !!

Bagaimana Seorang Profesianal

Kini adalah zaman profesional. Memasuki abad ke-21 yang dicirikan oleh budaya global yang penuh kompetisi dan perubahan serba cepat, tidak terbayangkan lagi ada organisasi yang bisa bertahan tanpa profesionalisme. Bukan sekedar profesionalisme tetapi profesionalisme kelas tinggi, world-class profesionalism, yang memampukan kita hidup sejajar dan bermitra dengan organisasi-organisasi terbaik dari seluruh dunia.

Kaum profesional dari pelbagai disiplin sekarang sudah merambah seluruh dunia. Bagi mereka batas-batas kebangsaan dan kenegaraan tidak lagi relevan. Mereka bisa bekerja di mana saja. Wawasan mereka sudah kosmopolitan. Mereka adalah warga dunia yang bisa memberikan kontribusi mereka di mana saja di muka bumi.
Bangsa kita juga memerlukan sekelompok besar kaum profesional untuk mampu berperan mengisi pembangunan masyarakat di segala bidang. Jika kita tidak mampu menyediakan kaum profesional ini dalam jumlah yang cukup maka terpaksa kita harus mengimpor mereka dengan harga yang sangat mahal.

Padahal Indonesia juga berpotensi mengekspor tenaga-tenaga profesional dalam pelbagai kelas ke mancanegara. Namun untuk sampai di sana masih diperlukan usaha besar. Dan salah satu hal yang perlu dikembangkan ialah memasyarakatkan sikap dan mentalitas profesional. Dan pada pasal ini saya ingin membahas pengertian dan konsep profesional. Ini penting mengingat kata profesional sudah terlalu populer sehingga - seperti apa pun yang terlalu populer - cenderung mengalami pendangkalan arti bahkan penyimpangan makna.

1. Mentalitas Mutu Terbaik

Seorang profesional bertekad menampilkan kinerja terbaik yang mungkin ditampilkannya. Dengan sengaja dia tidak akan mau menampilkan the second best (kurang dari terbaik) karena tindakan itu adalah bunuh diri profesi. Seorang profesional, dengan demikian, mengusahakan dirinya selalu berada di ujung terbaik bidang keahliannya. Dia melakukannya karena hakikat profesi itu memang ingin mencapai suatu kesempurnaan riil, menembus batas-batas ketidakmungkinan praktis, untuk memuaskan dahaga manusia akan ideal keindahan, kesempurnaan dan kebaikan. Jadi mentalitas pertama seorang profesional adalah standar kerjanya yang tinggi yang diorientasikan pada ideal kesempurnaan.
Dengan ini jelas bahwa profesionalisme tidak selalu identik dengan pendidikan tinggi. Yang utama adalah sikap dasar atau mentalitas. Maka seorang pengukir di pelosok Bali misalnya, meskipun tidak lulus SD, tetapi mengukir dengan segenap hati sampai dihasilkan suatu karya ukir terhalus dan terbaik, sebenarnya adalah seorang profesional. Seorang guru SD di pulau terpencil yang mengajar dengan segenap dedikasi untuk kebaikan murid-muridnya adalah seorang profesional.

Di pihak lain, seorang dokter yang menangani pasiennya secara terburu-buru karena mengejar jumlah pasien banyak bukanlah seorang profesional. Demikian pula seorang guru besar yang mengajar asal-asalan, meneliti asal jadi, membina mahasiswa terlalu banyak sampai mengorbankan kualitas, bukanlah seorang profesional. Atau seorang insinyur yang dengan sengaja mengurangi bahan bangunannya demi laba yang lebih besar bukanlah seorang profesional.

2. Mentalitas Baik Hati

Seorang profesional selalu dimotivasi oleh keinginan mulia berbuat baik. Istilah baik di sini berarti berguna bagi masyarakat. Aspek ini melengkapi pengertian baik dalam mentalitas pertama, yaitu mutu. Baik dalam mentalitas kedua ini berarti goodness yang dipersembahkan bagi masyarakat. Secara umum profesi seperti guru, dokter atau pengacara memang jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Taat asas dengan pengertian ini, tidak mungkin ada pencuri profesional atau pembunuh profesional. Mungkin saja teknik mencurinya atau metoda membunuhnya memang canggih dan hebat, tetapi menggelari mereka sebagai kaum profesional adalah kerancuan pemakaian istilah. Seorang profesional memang tinggi mutu kerjanya secara teknis, tetapi nilai kerja itu sendiri diabdikan demi kebaikan masyarakat dan didorong oleh kebaikan hati.

Di pihak lain, karena kualitas kerjanya sedemikian tinggi, berbasiskan kompetensi teknis yang tinggi, masyarakat menghargai jasa kaum profesional ini dengan tinggi pula. Inilah sebab mengapa imbalan jasa bagi kaum profesional selalu tinggi. Jasa mereka amat dibutuhkan masyarakat --permintaan atasnya selalu lebih tinggi dari ketersediaan yang biasanya terbatas-- mengakibatkan imbalan kerja seorang profesional memang menjadi mahal. Oleh karena itu, status sosial seorang profesional dari segi moneter, umumnya berada di lapisan tengah ke atas. Ini bukan karena sang profesional menuntut untuk didudukkan di kelas tersebut, tetapi terjadi sebagai akibat logis dari eksistensi profesionalnya.

3. Mentalitas Melayani Secara Altruistik

Seorang pekerja profesional, tidak bekerja untuk kepuasan diri sendiri saja tanpa peduli sekitarnya. Ia tidak melakukan onani profesi. Akan tetapi pekerja profesional memiliki konstituen yang jelas, terutama pemakai jasa profesionalnya. Sorang maestro sekelas Michelangelo pun tetap mempunyai pelanggan, yakni Paus, yang keinginannya harus dipuaskan.
Seorang profesional bahkan dengan tegas mematok nilai moneter atas jasa profesionalnya. Dengan ketegasan ini ia kemudian dituntut untuk selalu berada dalam posisi tawar-menawar yang rasional dengan para pelanggannya. Itu berarti seorang profesional dituntut untuk bisa memuaskan pelanggannya sebaik-baiknya. Dan dia diharapkan melakukannya secara konsisten, dengan segenap ketulusan hati, sebagai apreasiasi atas kesetiaan pelanggannya di sepanjang karir profesionalnya.

Untuk mampu melakukannya, seorang pekerja profesional perlu menghayati pekerjaannya sebagai sebuah kebajikan dan kemuliaan, bukan sekedar lapangan kerja. Penghayatan ini mendorongnya untuk mengabdi secara tulus pada nilai-nilai profesinya secara total dengan menunjukkan sikap altruistik (berkorban demi sebuah idealisme atau kebajikan). Maka ciri ketiga seorang pekerja profesional adalah sikap pelayanan yang altruistik kepada pelanggan dan nilai-nilai profesinya.

4. Mentalitas Belajar Secara Kontinual

Pemain profesional, sebelum terjun full time, terlebih dahulu telah menerima pendidikan dan pelatihan mendalam, dan sepanjang karir-nya kemudian juga terus-menerus mengenyam pendalaman-pendalaman dan latihan-latihan tiada henti; sedangkan pemain amatir merasa cukup berlatih sekadarnya sesuai kecukupan waktu yang tersedia.
Seorang pekerja profesional adalah seorang yang telah mendapat pen-didikan dan pelatihan khusus di bidang profesinya. Bahkan untuk profesi-profesi tertentu yang sudah mapan, sebelum sesorang menyandang status profesional, dia harus melalui ujian lebih dahulu guna mendapatkan ser-tifikasi profesional dari asosiasi profesinya.
Kompetensi tinggi memang tidak mungkin dicapai tanpa disiplin belajar yang ketat. Dan karena tuntutan masyarakat semakin lama semakin tinggi, maka tak pelak lagi, belajar dan berlatih seumur hidup menjadi budaya kaum profesional. Tanpa itu maka sajian nilai sang pekerja profesional semakin lama semakin tidak relevan, bahkan bisa out of touch dengan realitas sekitarnya. Pada saat itulah seorang pekerja gagal menjadi profesional.

5. Mentalitas Artistik

Pemain profesional mengabdikan hidupnya secara total kepada olahraga yang dipilihnya. Seorang pekerja profesional memilih dengan sadar salah satu bidang kerja yang akan ditekuninya sebagai profesi. Pemilihan ini biasanya terkait erat dengan ketertarikannya pada bidang itu, bahkan ada semacam rasa keterpanggilan untuk mengabdi di bidang tersebut.
Mula-mula, pilihan itu dipengaruhi oleh bakat dan kemampuannya dalam bidang tersebut yang digunakannya sebagai kalkulasi peluang suksesnya di sana. Kemudian berkembanglah sebuah hubungan cinta yang dinamik antara sang pekerja dengan pekerjaannya.
Hubungan ini mirip dengan hubungan jejaka-gadis yang jatuh cinta. Semakin mereka mengenal, rasa cinta makin kental, sehingga akhirnya mereka mengokohkan hubungan itu secara marital. Demikian juga sang profesional, semakin ia menekuni profesinya makin timbul rasa cinta. Dan bila hatinya sudah mantap betul, ia memutuskan untuk hanya menekuni bidang itu sampai tuntas, dan menyatu dalam sebuah ikatan kekal.

Seorang pemain profesional menguasai seni bermain. Baginya permainan tidak hanya soal teknis, tetapi juga seni. Ia beranjak dari seorang jagoan menjadi seorang maestro, seperti Rudy Hartono di bulutangkis. Sedangkan pemain amatir, tidak pernah sampai ke jenjang seni; asal menguasai teknik-teknik dasar sudah memadailah untuk ikut pertandingan-pertandingan.
Seorang pekerja profesional, sesudah menguasai kompetensi teknis tinggi di bidangnya, berkembang terus ke tahap seni bahkan filosofis. Dia akan menemukan unsur seni yang artistik dalam pekerjaannya. Dia akan menghayati keindahan dalam profesinya. Perspektifnya terbuka melihat kekayaan profesi yang ditekuninya. Seterusnya, perspektif, keindahan, dan kekayaan ini akan membangkitkan kegairahan bagi sang profesional yang sekaligus membuatnya menjadi manusia kreatif dan inovatif.

Namun perspektif hanya dimiliki oleh orang yang berdiri di ketinggian. Sekali lagi hal ini menegaskan bahwa menjadi profesional adalah sebuah perjalanan mendaki, ke level yang lebih tinggi lagi, menuju ketinggian tertinggi, jika mungkin.

6. Mentalitas Kesetiaan

Karena panggilan olahraga profesional menuntut pengabdian total, maka seorang pemain profesional memilih bidangnya secara sadar dan menanggung semua konsekuensi pilihan itu, misalnya harus meninggalkan keluarga atau berhenti studi; sedangkan pemain amatir meman-dangnya sebagai hobi atau kegemaran.
Seorang pekerja profesional, sesudah memilih untuk "menikah" dengan bidang profesinya, menerima semua konsekuensi pilihannya, baik manis maupun pahit. Bidang profesi apa pun pada dasarnya, selalu menekuni dan menggulati sebuah wacana khusus yang kental dengan dimensi moral, khususnya tentang kebenaran, kebaikan dan keadilan.

Maka seorang profesional sejati tidak akan menghianati etika profesi dasar ini. Dia tidak akan mengorbankan prinsip moral profesinya demi uang atau kekuasaan misalnya. Itulah sebabnya penghianatan profesi disebut juga sebagai pelacuran intelektual yakni ketidaksetiaan pada moralitas dasar kaum profesional.

Di pihak lain, jika profesinya dihargai dan dipuji orang, dia juga akan menerimanya dengan wajar. Kaum profesional bukanlah pertapa yang tidak membutuhkan uang dan kekuasaan, tetapi mereka menerimanya sebagai bentuk penghargaan masyarakat yang diabdinya dengan tulus.
Jadi tampaklah bahwa proses menjadi profesional sangat berat. Tanpa motivasi ekstra, stamina tinggi dan konstan, seseorang tidak mungkin menjadi profesional sejati. Tetapi daya tarik sebagai profesional juga amat tinggi.

Salah satu pertanyaan penting dalam proses ini adalah, darimanakah seorang profesional mendapatkan motivasinya, sehingga ia dapat bertahan dalam arena profesional itu? Pasti tidak dari sekadar uang saja meskipun dunia profesional berkelimpahan dengan uang. Lagipula sudah diketahui bahwa motivasi uang selalu berbentuk kurva lonceng (bell shaped curve), maksudnya uang memang memotivasi orang, tetapi sesudah uang tersebut diperoleh, tingkat motivasinya akan turun kembali; mendaki mencapai puncak kurva lonceng lalu menurun menuju dasar kurva.

Motivasi seorang profesional sejati ternyata selalu berasal dari ruang moral-spiritual. Dari ruang ini dapat digali pelbagai macam motivasi super seperti demi negara, demi bangsa, demi keharuman nama keluarga, demi pengembangan diri menuju puncak pendakian moral-spiritual, demi kekasih hati, demi keindahan, demi perdamaian, demi demokrasi, demi kemanusiaan, demi kemajuan peradaban dan sebagainya. Bentuk-bentuk motivasi non-material ini misalnya adalah cinta, pengabdian, panggilan, dan kehormatan.Motivasi superior inilah yang mampu mendukung stamina jangka panjang seorang profesional dalam bentuk energi psiko-spiritual.

Dalam dunia modern dewasa ini, di mana kompetisi antarmanusia, antarorganisasi, antarperusahaan dan antarbangsa telah menjadi norma, maka profesionalisme di segala bidang kehidupan menjadi tiket masuk ke arena pertandingan peradaban. Tanpa profesionalisme kita cuma jadi penonton. Dan sebagai penonton, kita harus selalu membayar.
Dan hebatnya, tidak ada calo yang menjual karcis catutan. Artinya setiap orang harus menjadi profesional. Setiap perusahaan, partai politik, atau organisasi apa pun harus menjadi profesional. Bahkan setiap negara akhirnya harus berkelakuan profesional terhadap konstituennya termasuk dalam pergaulan antarbangsa.

Jika saya intisarikan, ciri-ciri manusia profesional tersebut memiliki ciri sebagai berikut:

o. Sikap Selalu Memberi yang Terbaik;
o. Orientasi Memuaskan Pelanggan/Konstituen;
o. Sikap Kerja Penuh Antusiasme dan Vitalitas;
o. Budaya Belajar Sepanjang Hayat;
o. Sikap Pengabdian Pada Nilai-nilai Profesi;
o. Hubungan Cinta dengan Profesinya;
o. Sikap Melayani yang Altruistik;
o. Kompetensi Tinggi Berorientasi Kesempurnaan

Ingin Merubah Dunia

Ya, mungkin ini keinginan masing-masing kita. Kita ingin merubah dunia. Dunia ini bisa kecil, bisa pula besar. Bisa artinya keluarga, adik, kakak, papa, mama atau anak, istri/suami. Bisa pula artinya lingkungan rumah, suasana jalan, kampus, lingkungan kerja, jenis pekerjaan, bawahan, atasan, rekan kerja. Bisa pula dunia dalam arti yang lebih besar lagi, soal lingkungan hidup, ekonomi, ketertiban dan keamanan dan lain-lain. (dalam hati mikir ... tulisan ane kok makin lama makin kebanyakan seriusssnya yakh??)

Bagaimana cara paling mudah merubah dunia? Mengaitkannya dengan bukti adanya Prima Causa (Sebab Utama), Yang Maha Pencipta, banyak orang kemudian berangan-angan, bagaimana jika dirinya menjadi Tuhan Yang Maha Berkuasa. Dengan demikian dengan mudahnya kita bisa mengatur dan merubah hidup dan dunia ini menjadi lebih baik (menurut versi kita). Contoh paling gampang ya pilemnya Michael Landon ketika dia menjadi malaikat - Highway to Heaven - atau yang terbaru Jim Carrey yang jadi Tuhan dalam Bruce Almighty ...... (btw, saya nggak nonton dan tidak berminat nonton film ini, menurut otak saya terlalu ‘jauh’ impian dan kengawurannya ... hehehe)

Padahal kita semua tahu ini adalah hil yang mustahal (hal yang mustahil). Jangankan merubah dunia, lha merubah diri sendiri aja butuh waktu, usaha, dan pengorbanan ... :-P

Stephen Covey mengajarkan prinsip yang ia sebut sebagai prinsip inside-out. Dalam mengatasi masalah hidup ini (soal papa-mama, istri, atasan, soal ekonomi dll di atas), kita harus mulai dari diri sendiri. Berikut kutipan dari tulisannya di buku 7 Habits:

It says if you want to have a happy marriage, be the kind of person who generates positive energy and sidesteps negative energy rather then empowering it. If you want to have a more pleasant, cooperative teenager, be a more understanding, empathic, consistent, loving parent. If you want to have more freedom, more latitude in your job, be a more responsible, a more helpful, a more contributing employee. If you want to be trusted, be a trustworthy. If you want the secondary greatness of recognized talent, focus first on primary greatness of character.

Kelihatannya memang rada ‘antik’ ya? Ketimbang merubah dunia, eh alih-alih kita malah harus sibuk merubah diri sendiri. Kembali lagi perputaran diskusi ini ialah pada pentingnya merubah diri sendiri sebelum mengharapkan orang lain berubah.

What do you think ???

Berjuang untuk nasib yang lebih baik

Bob Moore, punya cerita menarik yang dapat kita jadikan pemacu motivasi kita agar lebih gigih dan tidak mudah menyerah dalam hal apapun. Pertanyaan ; Sungguh mengherankan bahwa ternyata tidak banyak dari diantara kita yang bertanya pada diri sendiri tentang pertanyaan yang penting itu.

Beberapa tahun yang lalu, Bob Moore diundang untuk mendengarkan seorang wanita berkedudukan penting yang memberikan ceramah kepada para mahasiswa disebuah kolese kecil di Calofornia Selatan. Bangsal dipenuhi mahasiswa yang penuh semangat karena mendapat kesempatan mendengarkan seseorang yang sangat terkenal dibidangnya. Setelah sang Gubernur menyampaikan kata sambutannya, si pembicara maju mendekati mikrofon, memandang khalayak pendengarnya dari kiri, ke kanan, dan mulai: "Saya dilahirkan oleh seorang ibu yang tidak dapat mendengar dan tidak dapat bicara, alias Bisu dan Tuli.

Saya tidak tahu siapa Ayah saya, apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Pekerjaan pertama yang saya geluti adalah di Pertanian Kapas"Para pendengar tertegun. "Tidak ada sesuatu pun yang akan tetap sama jika kita tidak menghendaki begitu," dia melanjutkan. "Bukan nasib, bukan keadaan, dan juga bukan kita dilahirkan demikian yang menyebabkan masa depan kita menjadi demikian."

Dan dengan suara perlahan, dia mengulangi, "Tidak ada sesuatupun yang akan tetap sama jika kita tidak menghendakinya begitu.""Yang harus dilakukan orang adalah," dia menambahkan dengan suara tegas, "Mengubah keadaan yang mendatangkan ketidakbahagiaan atau ketidakpuasan dengan menjawab pertanyaan: "Saya ingin keadaan ini menjadi seperti apa?, Lalu kita harus bekerja sendiri dengan tekad baja untuk mewujudkannya." Kemudian, sebuah senyuman cantik mengembang ketika dia berkata, "Nama saya Azie Taylor Morton. Saya sekarang berdiri disini sebagai Menteri Keuangan Amerika Serikat."

Sumber: The Question by Bob Moore, disadur dari 'Chicken Soup for the Soul at Work' Copyright 1996 by Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Maida Rogerson, Martin Rutte & Tim Clauss


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger and Free Ebook